Ellawijt, Hujan Prestasi Karena Hobi

Kompas.com - 08/04/2009, 11:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ellawijt, si "pelukis stroberi" yang akan berusia 19 tahun pada bulan Mei nanti itu, baru memamerkan 20 lukisannya di Wishbone Cafe Gallery, Chicago, Lincoln Avenue, AS. Pameran bertajuk 'My Strawberry's Little Show' itu dibuka kemarin (Selasa/7/4) dan berlangsung hingga 30 April 2009 mendatang.

Namun, bukan cuma soal pamerannya yang terpenting. Melainkan, perjalanan Ellawijt bisa sampai ke Negeri Paman Sam tersebut. itulah kiranya perlu diketahui.   

Lahir di Jakarta, 8 Mei 1990, Ella, -begitu dara ini biasa disapa, mengaku minat melukisnya datang dan dimulai dari hobi menggambar saat di bangku playgroup. Ella berkisah, waktu masih dalam kandungan, ibunya suka ngidam pergi ke pameran lukisan sampai berkali-kali.

Merangkak SD, ayahnya mengenalkan Ella dengan pastel dan kanvas. Sejak itulah, Ella merasakan beda kenikmatan antara melukis dan menggambar. Ella pun pilih melukis.

Di bangku SMP, Ella kian keranjingan. Di lantai dua rumahnya di Jatibening, Bekasi, Ella tekun melukis garis dan arsiran sebagai kesenangannya. Keseriusan itu membuat sang ayah mendatangkan seorang guru lukis untuknya.

Menginjak kelas tiga SMP, Ella mengantongi penghasilan pertama dari melukis. Namun, baru di jenjang SMA-lah Ella justeru mengenal “the real world” dunia seni lukis yang digandrunginya sampai kini.

Di bangku kelas satu SMA, Ella sudah mengikuti pameran lukisan bersama untuk pertama kalinya. Terhitung, sampai kini sekitar sembilan pameran bersama telah dikantonginya.

Sejatinya, melukis memberikan ketenangan jiwa. Jiwa muda yang ingin selalu memberontak dan senang mencoba hal baru. Karena itulah Ella menjadikan hobi ini tidak semata aktifitas sambil lalu, melaikan sumber investasi masa depan.

Bukan, investasi bukan cuma uang puluhan juta yang pernah didapatkannya dari penjualan lukisan. Melainkan, beasiswa yang membawanya hinga berkuliah di School of Art Institute Chicago, AS. 

Beasiswa Bukanlah Bunga Tidur
Pada Mei 2007, Ellawijt menggelar pameran perdananya bertajuk 'Ellawijt: It’s Just Been Started'. Uniknya, pameran itu adalah cara Ella merayakan hari ulang tahun sweet seventeen-nya, dengan menghadirkan sebanyak 40 karya lukisan stroberi di Museum Nasional, Jakarta.

Tahun lalu, Ella baru lulus dari bangku SMU kelas tiga jurusan IPA di SMU St. Peter, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di tengah ketatnya persiapan belajar menghadapi ujian nasional waktu itu, Ella pun harus tetap berupaya keras menyiapkan 'Chasing After Wind', pameran tunggal keduanya yang digelar bulan Mei 2008 silam, juga di Museum Nasional.

Kerja keras Ella sepertinya terus lahirkan prestasi. Dua bulan berselang, Juli 2008, Ella bertolak ke Taiwan untuk memenuhi undangan dari Dr. Sun Yat Sen Foundation. Di sana, Ella menggelar pameran bersama beberapa pelukis senior Indonesia seperti Kartika Afandi, Maria Tjui, H.Hardi, serta Gande.

Di bulan itu pula, Ella harus berangkat ke Chicago untuk mengambil tawaran beasiswa kuliahnya di School of The Art Institute of Chicago. "Awalnya cuma berupa info dari kakakku, dari situ aku browsing alamat email kampusnya dan mengirim portofolio lukisanku," cerita Ella, via chatting dengan Kompas.com.

Hanya tiga bulan berselang, Ella diminta mengirim profil lengkap dirinya. "Tak disangka, aku langsung diterima dan semua memang hanya karena lukisan-lukisanku," tutur Ella.  

Bak kebasahan oleh hujan rejeki, bulan Juli mendatang pun Ella sudah mendapatkan tawaran dari Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA), Singapura. "Prosesnya sama yaitu lewat browsing dan cari info sebanyak-banyaknya di internet," kata Ella. Kalau memang rejeki dan beasiswa itu diambilnya, Ella akan bersiap masuk jurusan painting and drawing.

Itulah Ellawijt. Perempuan muda Indonesia, yang tengah nun jauh melukis prestasi di Negeri Paman Sam. Yang hanya karena hobi melukis, sebuah mimpi bukan lagi bunga tidur untuknya. Cita-cita bukan pula seonggok batu di depan mata, melainkan kenyataan indah dalam genggamannya sebagai anak muda Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau