WNI di Australia Antusias Memilih

Kompas.com - 09/04/2009, 09:46 WIB

BRISBANE, KOMPAS.com - Proses Pemilu di Australia yang diikuti sedikitnya 27 ribu pemilih berlangsung sejak Kamis pagi pukul 09.00 dengan Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu Primo Alui Joelianto dan istri sebagai dua pemilih pertama yang mencentang di TPS Balai Kartini KBRI Canberra.

"Soal pilihan nggak boleh bilang-bilang... Rahasia," katanya beberapa saat setelah selesai mencentang.

Dubes Primo mengatakan, sangat senang menyaksikan antusiasme masyarakat Indonesia yang terus berdatangan ke kompleks KBRI Canberra untuk menyalurkan hak pilihnya.

"Warga kita sudah mulai datang sejak pukul 09.00 dan mereka terus berdatangan. Mudah-mudahan setidaknya angka partisipasi pada Pemilu 2004 sebesar 80 persen dapat kita capai hari ini," katanya.

TPS KBRI Canberra melayani para pemilih hingga pukul 18.00 waktu Canberra dan setelah itu dilanjutkan dengan proses penghitungan suara pada pukul 19.00. "Saya akan menyaksikan langsung penghitungan suara itu," katanya.

Sebelumnya, anggota PPLN Canberra, Raudin, mengatakan, kegiatan TPS KBRI Canberra diawali dengan pelantikan enam anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) oleh ketuanya, Edy Ridwan, dan dilanjutkan dengan pembukaan kotak berisi dokumen-dokumen Pemilu.

Untuk memudahkan para pemilih, warga masyarakat dan pengurus Dharma Wanita KBRI Canberra membuka empat gerai jualan aneka makanan dan kue-kue khas Indonesia. "Suasananya menyenangkan dan sampai pukul 09.45, sudah ada 36 orang pemilih di lokasi TPS," katanya.

PPLN Canberra memiliki 467 orang pemilih tetap. Dari jumlah itu, 44 orang di antaranya memutuskan untuk memilih lewat pos dan selebihnya di TPS KBRI Canberra. Selain itu, tiga WNI di Vanuatu, negara kepulauan di Pasifik Selatan, juga menyalurkan hak pilihnya melalui pos ke Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Canberra.

Selain di Canberra, sedikitnya 27 ribu orang pemilih juga mulai mendatangi TPS-TPS yang ada di wilayah kerja PPLN dan KPPSLN Darwin, Perth, Melbourne, Sydney, Adelaide, Gold Coast, Brisbane, dan Townsville.

Di TPS I KJRI Sydney, Konsul Jenderal Sudaryomo Hartosudarmo, istri, dan kedua putri mereka menjadi empat orang pertama yang memilih pukul 09.00 waktu Sdyney. Proses pemilihan di TPS I KJRI Sydney itu sempat diliput Stasiun Televisi "SBS" Australia.

Antusiasme pemilih juga terlihat di negara bagian New South Wales (NSW), Queensland, dan Australia Selatan. Menurut anggota PPLN Sydney, Pratito Soeharyo, hingga pukul 10.20 waktu setempat, sudah ada 500 orang pemilih yang sudah mencentang di berbagai TPS di tiga negara bagian yang masuk wilayah kerja PPLN Sydney.

"Di TPS Brisbane misalnya tercatat 47 orang, Gold Coast 15 orang, Adelaide 44 orang dan Wollongong 11 orang berkat sistem ’online’ yang kita miliki," katanya.

Seperti pengalaman di TPS KBRI Canberra dan KJRI Sydney, proses pemilihan di TPS Konsulat RI Darwin juga diawali dengan pencentangan oleh Konsul Harbangan Napitupulu.

Anggota PPLN Darwin, Arvinanto Soeriaatmadja, mengatakan, pihaknya sudah membuka TPS sejak pukul 08.00 waktu setempat untuk melayani 315 orang pemilih tetap. "Karena Pemilu kita jatuh pada hari kerja, kita membuka TPS hingga pukul 18.00," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau