TANGERANG, KOMPAS.com — Berbeda dengan para pengungsi lain yang tidak antusias untuk menggunakan hak pilihnya, Ti'ot (65) dan suaminya Ikhsan (75) justru bersemangat menyalurkan hak pilihnya, padahal dalam bencana Situ Gintung, Ti'ot harus kehilangan 7 anggota keluarga.
Saat ditanya alasan ia tetap datang ke tempat pemilihan suara (TPS) ia menjawab, "Ini wajib, ngikutin pemerintah, biar sakit juga," ujarnya seraya memegang dada.
Ti'ot merasa dadanya sakit, ia menduga penyebabnya adalah terlalu banyak beban yang ia rasakan akibat bencana jebolnya tanggul Situ Gintung. Saat berada di dalam bilik suara, Ti'ot tidak merasa bingung karena ia sudah mempunyai pilihan, tetapi ia tidak bersedia menyebutkan apa pilihannya tersebut.
Saat ini Ti'ot dan suaminya menyewa rumah di kawasan sekitar Gintung yang dibiayai oleh pemerintah daerah, dan untuk mencapai TPS 23 tempatnya terdaftar, mereka harus meminta keponakannya untuk mengantar.
Bencana jebolnya tanggul tersebut, Ti'ot harus kehilangan Aisyah (50), Wito, Sri, Nabila (4) Aman (20), oleh (18) sedangkan Lana (11) sampai saat ini belum ditemukan. Saat ini seluruh keluarga Ti'ot yang meninggal telah dimakamkan di taman pemakaman umum yang berada di sekitar Gintung.
Ti'ot dan Ikhsan hanya berharap, pemimpin terpilih nantinya dapat mengayomi masyarakat. "Selama ini semua kebutuhan saya dicukupi oleh anak. Tapi sekarang anak saya sudah meninggal, jadinya saya hanya bisa meminta kepada pemerintah agar lebih memperhatikan saya, " harap wanita paruh baya ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang