Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Fatimah/Taufik Ismail
MEMILIKI anak merupakan harapan pasangan muda Dodi (28) dan Rani Agustina (22), warga Jalan Sukarajin II RT08 RW12, Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying, Bandung. Begitu tahu Rani hamil, Dodi pun sangat senang. Saat kandungan istrinya memasuki empat bulan, ia semakin senang karena hasil ultrasonografi (USG) menunjukkan istrinya mengandung bayi kembar.
Tapi kesenangan itu hanya beberapa saat ketika mengetahui hasil USG bulan berikutnya. Dodi sedih dan prihatin ternyata anaknya kembar siam dengan dempet di bagian dada hingga pusar. "Saya sedih, nggak percaya, dan khawatir juga. Bagaimana kalau sudah lahir, masa sampai gede harus seperti itu terus," kata Dodi saat ditemui di rumahnya.
Lelaki yang sehari-hari bekerja di sebuah pembuatan mebel di Gedebage ini setiap bulan menemani sang istri melakukan pemeriksaan USG di sebuah layanan pemeriksaan Ibu dan Anak di Rumah Zakat Indonesia (RZI), Jalan Turangga. Di tempat ini, pasangan suami-istri ini tidak membayar biaya USG.
Akhirnya, setelah kandungan berusia 8 bulan 2 minggu, tepatnya 9 Maret 2009, bayi kembarnya lahir dengan proses cesario atau operasi cesar di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). "Prihatin dan nggak tega pas lihat anak saya. Soalnya hanya punya satu jantung, satu paru-paru, dan satu hati," katanya.
Selama 21 hari, bayi kembarnya dirawat di inkubator Ruang 17 RSHS. Kedua bayi yang lahir dengan berat 3.150 gram dan panjang 48 sentimeter ini diberi nama Fadlan Maulana Sani dan Fadli Maulana Sani. Meski hanya punya satu jantung, paru-paru, dan hati, dua bayi laki-laki ini memiliki dua kepala, empat tangan, dan empat kaki.
Menurut Rani, kedua anak kembarnya harus minum susu dengan menggunakan selang. Tapi setelah beberapa hari, Fadlan sudah bisa minum langsung dari dot, sedangkan Fadli belum bisa. Fadli mengalami kelainan di bibirnya hingga masih harus menggunakan selang untuk membantunya minum susu.
"Kalau minum dua-duanya pakai selang. Jadi, susu dimasukkan ke dalam suntikan, terus dimasukkan selang yang sudah terpasang di hidung," ujar Rani.
Seperti suaminya, ibu muda ini juga tidak menyangka anaknya lahir dempet. Ia tidak pernah punya firasat buruk selama hamil. Mengetahui buah hatinya kembar dempet, perempuan berkulit putih ini seperti dihadapkan pada dua pilihan sulit.
Satu sisi sebagai seorang ibu, ia ingin kedua anaknya dapat hidup dan tumbuh normal seperti anak lain umumnya. Tapi di sisi lain, ia sangat menyadari tak mungkin kedua anaknya tumbuh besar dan dewasa dengan kondisi dempet. Makanya, ketika ia dihadapkan pada pilihan tersebut, Rani hanya bisa menangis.
"Saya nggak tahu pilih yang mana. Nggak bisa. Inginnya dua-duanya hidup sehat dan normal. Tapi nggak mungkin juga begini terus. Saya cuma bisa pasrah dan berharap ada keajaiban dari Allah," keluhnya.
Kini Dodi dan Rani masih mencari jalan keluar untuk buah hatinya. Meski mengaku siap untuk memilih salah satu dari kedua anaknya, Dodi mengaku masih butuh waktu untuk menyiapkan mentalnya. Saat ini ia hanya ingin merawat anaknya sebaik mungkin.
"Untuk operasi, saya ingin, tapi itu nanti dulu. Yang penting sekarang bagaimana agar anak saya sehat," ujarnya.
Jumat pagi, Dodi dan Rani memutuskan membawa pulang buah hatinya ke rumah. Menurut Direktur Utama RSHS dr Cissy Kartasasmita, mereka meminta pulang dan memilih untuk merawat kedua anaknya di rumah.
Cissy juga menegaskan, bila pasien menggunakan kartu jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas), pihak RSHS tidak akan memungut biaya sepeser pun, termasuk bila nantinya bayi tersebut akan dirawat kembali.
Terkait operasi pun, lanjut Cissy, dilihat dari tenaga ahli dan perlengkapan, RSHS sanggup melakukan operasi pemisahan. Tapi, katanya, terganjal masalah kondisi bayi yang hanya memiliki satu organ penting.
"Bisa saja orang tua mengaku siap kehilangan salah satu anaknya, tapi kan tidak semudah itu bagi dokter. Banyak yang perlu dipertimbangkan sebelum diputuskan untuk melakukan operasi," lanjutnya.
Cissy juga membantah bila ada pernyataan dari pihak keluarga yang menyebutkan dibutuhkan biaya sekitar Rp 400 jutaan untuk melakukan operasi pemisahan. Menurutnya, pihak RSHS sendiri tidak pernah menawarkan operasi bagi bayi.
"Kami tidak pernah menawarkan operasi karena memang melihat kondisi bayi. Jadi tidak sanggup di sini karena memang kondisinya yang tidak memungkinkan untuk dioperasi," tegasnya. (*)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang