Bali Bangun Wisata Pasar dan Kaki Lima

Kompas.com - 16/04/2009, 12:04 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi Bali melirik kawasan belanja untuk dibenahi sebagai tujuan wisata. Saat ini pemerintah daerah tengah menyiapkan dua pasar wisata baru dan satu sarana pedagang kaki lima (PKL) di dua kabupaten yang paling banyak dikunjungi wisatawan sebagai alternatif tujuan wisata yang baru.

"Pemerintah pusat mengalokasikan dana bagi Provinsi Bali untuk merevitalisasi dua pasar tradisional dan satu sarana PKL," kata Kepala Bidang Bina Usaha Koperasi Dinas Koperasi, Pengusaha Kecil, dan Menengah Provinsi Bali, I Wayan Dendres, di Denpasar, Kamis (16/4).

Dana tersebut bersumber dari anggaran stimulus 2009 yang dikucurkan kepada Kementerian Negara Koperasi dan UKM melalui program revitalisasi pasar tradisional.

Dendres mengatakan, pihaknya telah mengusulkan dua titik pasar dan satu titik sarana PKL untuk direvitalisasi dan ditata dengan lebih baik. "Kami melihat ada potensi besar dua pasar dikembangkan untuk menjadi layaknya Pasar Seni Sukowati," katanya.

Pasar yang akan direvitalisasi semula adalah pasar tradisional yang telah ada tetapi tidak terkelola dengan baik, yaitu Pasar Tradisional Karangasem, Pasar Tradisional Bangli, dan sarana PKL di Bangli.

Ketiga tempat itu akan dikelola oleh koperasi yaitu KUD Bebandem untuk Pasar Karangasem, Koperasi Mega Gotong Royong untuk sarana PKL, dan Koperasi Bale Dana Mesari untuk Pasar Bangli.

Pihaknya menargetkan revitalisasi pasar dan pengembangan pasar tradisional di bawah pengelolaan koperasi mampu membangkitkan geliat perekonomian di dua wilayah yang banyak dikunjungi wisatawan itu. "Kalau sudah tertata kami yakin akan semakin banyak wisatawan yang berkunjung," katanya.

Selain itu, ada banyak multiplier effect yang diharapkan dengan semakin banyak kunjungan wisatawan, termasuk mendukung tata kota yang semakin baik. "Selama ini Kintamani banyak dikunjungi wisatawan, namun sayangnya PKL belum tertata dengan baik di wilayah itu. Jadi, dengan adanya program ini diharapkan PKL lebih tertata dan terkelola," katanya.

Seluruh Indonesia

Sebelumnya, Kementerian Negara Koperasi dan UKM telah menetapkan sebanyak 104 titik yang terdiri atas 91 titik pasar tradisional dan 13 lainnya usaha PKL yang tersebar di seluruh Indonesia akan direvitalisasi.

"Sampai saat ini kami masih membuka diri bagi kepala daerah yang ingin menyampaikan usulan revitalisasi pasar tradisional di wilayahnya. Karena hingga kini kami masih membahasnya," kata Deputi Menteri Negara Koperasi dan UKM Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha, Ikhwan Asrin, di Jakarta, belum lama ini.

Ia mengatakan, melalui dana stimulus perekonomian yang jumlahnya Rp 12,2 triliun, Kementerian Negara Koperasi dan UKM (Kemenkop) mendapat alokasi dana Rp 100 miliar untuk program revitalisasi pasar tradisional dan PKL.

Pasar yang akan direvitalisasi harus memenuhi sejumlah persyaratan di antaranya diusulkan oleh kepala daerah/bupati setempat. "Ada persyaratan khusus yang lain yaitu pasar tradisional itu harus mampu menyerap tenaga kerja," kata Ichwan.

Selain itu, ada jaminan tidak akan mem-PHK (pemutusan hubungan kerja) terhadap pegawai, berdiri di atas tanah yang bebas sengketa, mampu mempertahankan usaha yang ada, dan bahkan diharapkan mampu meningkatkan daya beli masyarakat. "Dan yang juga harus diperhatikan bahwa semua itu harus bisa direalisasikan tahun ini," katanya.

Ikhwan menekankan, pasar tradisional tidak boleh hilang atau kehilangan peran dan fungsi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, agar pasar tradisional mampu bersaing dengan ritel modern harus mampu meningkatkan citra dirinya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau