BANGKOK, KOMPAS.com - Perdana menteri tersingkir Thailand Thaksin Shinawatra menyerukan rival politiknya membentuk rekonsiliasi. Namun, perpecahan yang berbuntut ke aksi kekerasan dalam unjuk rasa di jalan-jalan ibukota Bangkok tetap berlangsung Kamis (16/4) saat para pendukung Thaksin menolak mengakhiri perjuangan mereka menggulingkan pemerintah yang berkuasa.
Thaksin mengecam aksi kekerasan yang meluas di ibukota Thailand awal pekan ini saat para pendukung dan aliansinya terlibat bentrokan dengan tentara dan polisi sehingga mengakibatkan 2 orang tewas dan lebih dari 130 lainnya cedera. Kecaman ini disampaikan Thaksin dalam wawancara dengan The Associated Press dari tempat pengasingan di Dubai.
Kecaman itu disampaikan Thaksin setelah lawan politiknya, Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva, juga menyerukan rekonsiliasi nasional. "Perang tidak akan pernah dapat diakhiri dengan perang tetapi harus dengan cara negosiasi," kata Thaksin yang sebelumnya menyerukan para pendukungnya agar melancarkan "revolusi" untuk mencapai demokrasi.
"Apabila pemerintah menginginkan rekonsiliasi, saya akan mengajak mereka yang mengenakan kaus merah mematuhinya," kata Thaksin yang mencoba mendeskripsikan pendukungnya dengan sebutan kaus merah atau warna kritik terhadap kerajaan Thailand yang biasa diidentikkan dengan warna kuning.
Thaksin menyampaikan keinginannya agar Raja Bhumbibol Adulyadej yang telah berusia 81 tahun turun tangan dalam membenahi politik Thailand yang mengalami perpecahan. "Dengan kerendahan hati, saya memohon Yang Mulia (Bhumbibol Adulyadej) campur tangan... karena hanya itulah solusi pembenahan politik Thailand," tutur Thaksin dalam wawancaranya selama 20 menit.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang