India Mulai Pemilu Parlemen

Kompas.com - 17/04/2009, 06:22 WIB
 
 

NEW DELHI, KOMPAS.com - Puluhan juta penduduk India timur dan tengah memberikan suara, Kamis (16/4), dalam pemilu yang disebut-sebut sebagai pemilu demokratis terbesar di dunia. Pemilu parlemen tahap pertama itu diwarnai serangan kelompok bersenjata Maois yang menewaskan enam orang.

Pemilu India berlangsung selama lebih kurang satu bulan dengan 714 juta orang yang berhak memberikan suara. Pemilu dilakukan dalam lima tahap untuk memilih 543 anggota parlemen yang diharapkan bisa memimpin negara itu keluar dari krisis ekonomi dan keamanan.

Tahap pertama pemilu digelar di wilayah timur dan tengah India, antara lain Negara Bagian Jharkhand, Bihar, Assam, Andhra Pradesh, Uttar Pradesh, Kerala, Manipur, dan Orissa.

Kemarin pagi waktu setempat, kelompok Maois melepaskan tembakan ke arah pasukan milisi yang tengah berpatroli di Jharkhand dan menewaskan lima orang. Di Bihar, kelompok bersenjata juga menyerang sebuah tempat pemungutan suara di Distrik Gaya dan menewaskan seorang polisi.

Dengan 828.804 tempat pemungutan suara di seluruh India, hasil pemilu diperkirakan baru keluar pada 16 Mei.

”Sekarang ada banyak partai kecil. Sebelumnya hanya ada satu atau dua partai besar. Sulit membuat pilihan,” ujar Mohammed Mustaquim, pemilih di Varanasi.

Koalisi lemah

Pemilu kali ini masih menjadi ajang perebutan kekuasaan antara partai berkuasa, Partai Kongres Nasional India, dan oposisi Hindu nasionalis, Partai Bharatiya Janata (BJP). Akan tetapi, jajak pendapat menunjukkan bahwa keduanya tidak mampu meraih cukup kursi untuk membentuk pemerintahan sendiri.

Hal itu berarti pemilu India hanya akan menghasilkan koalisi lemah yang tidak akan lama berkuasa. Ratusan partai regional dan cenderung kiri juga bisa muncul sebagai ”Front Ketiga”.

”Yang diperlukan India adalah pemerintahan yang bisa melepaskan negara ini dari masa-masa sulit. Tragedinya adalah pengaruh partai nasional utama sangat merosot. Partai regional akan mencuat, tetapi mereka tidak memiliki pandangan nasional pada tahap ini,” papar Rasheed Kidwai, analis politik.

Yashwant Deshmukh, salah satu penyelenggara jajak pendapat, memperingatkan bahwa koalisi yang lemah tidak akan mampu menerapkan reformasi ekonomi yang kuat karena takut kehilangan dukungan. ”Jika kita memiliki pemerintahan yang tidak stabil, keputusan yang diambil cenderung populis dan proteksionis yang berdampak buruk pada reformasi pasar. Siapa pun yang menang tidak akan bertahan lebih dari dua tahun,” katanya.

Defisit fiskal untuk tahun finansial terakhir sebesar 6 persen pendapatan nasional bruto atau dua kali lipat dari target.

Kandidat utama pemilu kali ini adalah politisi veteran, yaitu PM Manmohan Singh (76) dari Partai Kongres dan LK Avani (81) dari BJP. Capaian terbesar Partai Kongres adalah pertumbuhan ekonomi 8 persen yang kini didera krisis ekonomi global. Partai Kongres juga dikritik atas serangan teror di Mumbai yang menewaskan 164 orang tahun lalu.

BJP menghadapi persoalan kepemimpinan yang sudah lanjut usia dan terpecah-belah.(ap/afp/reuters/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau