Bandar Lampung, Kompas -
Terhentinya revitalisasi menyebabkan kondisi tambak semakin rusak dan hasil produksi udang vanamei terus menurun.
Sekretaris Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW) Syukri J Bintoro di Lampung, Jumat (17/4), mengemukakan, penghentian program revitalisasi tambak plasma oleh perusahaan mengakibatkan laju kebocoran dan kerusakan tambak semakin cepat.
Hambatan infrastruktur menyebabkan jumlah tebaran benih udang (benur) vanamei tidak optimal, yakni 20.000 ekor per tambak dari normalnya 30.000-40.000 ekor per tambak.
Dampaknya, terjadi penurunan produksi udang dari rata-rata 400 kilogram per tambak setiap musim panen (3-4 bulan) pada tahun 2007 menjadi 200-300 kg per tambak per musim pada tahun 2009. ”Petambak plasma nyaris putus asa karena utang sudah semakin menumpuk. Kami berharap ada penyelesaian yang tidak semakin merugikan petambak,” ujar Syukri.
Jumlah utang petambak plasma, saat ini rata- rata mencapai Rp 40 juta per petambak, di antaranya untuk biaya hidup bulanan, pakan, dan benur.
Program revitalisasi tambak PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) dijadwalkan berlangsung pada 16 blok di delapan kampung, mulai Maret 2008 sampai Agustus 2009.
Hingga kini, baru satu blok yang selesai direvitalisasi dengan tingkat produksi mencapai 2,5 ton per tambak per musim.
Syukri mengatakan, perwakilan petambak plasma sudah beberapa kali mengadakan perundingan dengan PT AWS. Pihak perusahaan meminta penyelesaian revitalisasi diundur sampai tahun 2011.
Namun, para petambak menginginkan revitalisasi dijalankan sesuai jadwal awal sehingga petambak bisa segera berbudidaya secara intensif.
Ia mengatakan, pihaknya meminta pemerintah segera memfasilitasi upaya kelanjutan revitalisasi agar tidak tertunda.
Upaya yang dilakukan para petambak, di antaranya, dengan berkirim surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan tembusannya dikirim ke Pemprov Lampung, Pemkab Tulang Bawang, Menteri Kelautan dan Perikanan, dan Menteri Keuangan, pada bulan Februari 2009.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Made L Nurdjana mengatakan, sampai sekarang pihaknya belum menerima laporan dari perusahaan dan petambak mengenai persoalan revitalisasi.
Pemerintah, lanjut Nurdjana, tidak bisa menolong pembiayaan untuk revitalisasi tambak plasma. Akan tetapi, pihaknya menyatakan siap untuk melakukan mediasi dengan PT AWS.
Jumlah petambak plasma di PT AWS saat ini 7.000 orang, sedangkan sebelumnya 9.000 orang. Sebagian petambak mengundurkan diri dari program kemitraan. Luas areal tambak 16.250 hektar.