Dari Negeri Konflik Mencari Damai

Kompas.com - 18/04/2009, 06:57 WIB
KOMPAS.com - MATA Hussain Ali (18), imigran Afganistan yang tertangkap di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, berkaca-kaca saat menceritakan alasan melarikan diri dari Afganistan. Warna kulit wajahnya yang keputih-putihan memerah karena kelelahan atau kurang tidur di tempat penahanan.

Hussain mengaku tidak tenang tinggal di Afganistan karena takut dibunuh. ”Ayah dan ibu saya sudah dibunuh,” katanya. Kedua orangtua Hussain dibunuh oleh kelompok Taliban. ”Saya tidak ingin menjadi korban lagi,” katanya.

Pengalaman yang sama juga dialami Sarwari Sabir (36). Menurut Sabir, siapa pun bisa dibunuh oleh kelompok bersenjata itu kalau tidak mau menuruti perintah mereka. ”Mereka mengajak warga untuk berperang. Kalau tidak mau, bisa ditembak,” katanya.

Oleh karena itu, Sabir, dan mungkin ribuan warga Afganistan, ingin mencari negara yang lebih damai. Berbagai upaya pun dilakukan oleh Sabir untuk pergi dari negara asalnya.

”Saya sudah menjual lima sapi dan lahan perkebunan untuk pergi dari Afghanistan,” kata Sabir, seorang petani gandum. Selama perjalanan dari Afghanistan sampai Malaysia, uang yang dihabiskan sudah mencapai 3.000 dollar AS (Rp 33 juta).

Tidak hanya orang-orang dewasa seperti Hussain dan Sabir. Dari puluhan imigran Afganistan yang masuk ke Batam melalui Johor, Malaysia, pekan lalu, juga terdapat anak-anak berusia 4-17 tahun.

Negara tujuan akhir imigran dari Afganistan, termasuk imigran dari beberapa negara lain, seperti Sri Lanka dan Irak, adalah Australia. Untuk mencapai Australia, dari Malaysia, negara transit yang paling efektif adalah Indonesia. Jalur pantai timur Sumatera, seperti Batam, Kepulauan Riau, Jambi, Lampung, menjadi tujuan antara yang sangat strategis untuk memasuki Jakarta.

Dari Jakarta, para imigran melanjutkan perjalanan ke Banten, pantai selatan Jawa, atau ke wilayah Indonesia bagian timur untuk memasuki Australia, khususnya Pulau Christmas.

Pantai terbuka

Para imigran Afganistan itu ke Indonesia, khususnya ke Batam, Provinsi Kepulauan Riau, dari Malaysia melalui pelabuhan tidak resmi atau bahkan melalui lokasi pantai yang terbuka. Jalur itu dikenal juga sebagai jalur pemberangkatan atau pemulangan tenaga kerja Indonesia secara ilegal.

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Afganistan, Pakistan, Uni Emirat Arab, dan Malaysia dengan pesawat terbang, para migran itu ingin mendatangi kantor Komisi Tinggi Urusan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) di Jakarta. Melalui kantor UNHCR itu, diharapkan mereka bisa memperoleh status pengungsi atau bisa sampai dan tinggal di negara yang lebih aman.

Akan tetapi, upaya imigran untuk menghindari konflik dan mencari negara yang damai tidak semudah yang dibayangkan.

Di Jakarta, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah, Jumat (17/4), mengatakan, pertemuan tingkat menteri dalam kerangka Bali Process pada 14-15 April telah membahas akar persoalan yang memicu gelombang imigran gelap dari berbagai negara, termasuk Afganistan.

”Salah satu hal positif dari pertemuan itu adalah mengangkat akar permasalahan yang, jika tidak dikenali, akan menyebabkan gelombang migrasi ilegal terus terjadi,” kata Faiza.

Akhir-akhir ini, menurut Faiza, terjadi peningkatan gelombang imigran gelap melalui Indonesia. (fer/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau