Hussain mengaku tidak tenang tinggal di Afganistan karena takut dibunuh. ”Ayah dan ibu saya sudah dibunuh,” katanya. Kedua orangtua Hussain dibunuh oleh kelompok Taliban. ”Saya tidak ingin menjadi korban lagi,” katanya.
Pengalaman yang sama juga dialami Sarwari Sabir (36). Menurut Sabir, siapa pun bisa dibunuh oleh kelompok bersenjata itu kalau tidak mau menuruti perintah mereka. ”Mereka mengajak warga untuk berperang. Kalau tidak mau, bisa ditembak,” katanya.
Oleh karena itu, Sabir, dan mungkin ribuan warga Afganistan, ingin mencari negara yang lebih damai. Berbagai upaya pun dilakukan oleh Sabir untuk pergi dari negara asalnya.
”Saya sudah menjual lima sapi dan lahan perkebunan untuk pergi dari Afghanistan,” kata Sabir, seorang petani gandum. Selama perjalanan dari Afghanistan sampai Malaysia, uang yang dihabiskan sudah mencapai 3.000 dollar AS (Rp 33 juta).
Tidak hanya orang-orang dewasa seperti Hussain dan Sabir. Dari puluhan imigran Afganistan yang masuk ke Batam melalui Johor, Malaysia, pekan lalu, juga terdapat anak-anak berusia 4-17 tahun.
Negara tujuan akhir imigran dari Afganistan, termasuk imigran dari beberapa negara lain, seperti Sri Lanka dan Irak, adalah Australia. Untuk mencapai Australia, dari Malaysia, negara transit yang paling efektif adalah Indonesia. Jalur pantai timur Sumatera, seperti Batam, Kepulauan Riau, Jambi, Lampung, menjadi tujuan antara yang sangat strategis untuk memasuki Jakarta.
Dari Jakarta, para imigran melanjutkan perjalanan ke Banten, pantai selatan Jawa, atau ke wilayah Indonesia bagian timur untuk memasuki Australia, khususnya Pulau Christmas.
Para imigran Afganistan itu ke Indonesia, khususnya ke Batam, Provinsi Kepulauan Riau, dari Malaysia melalui pelabuhan tidak resmi atau bahkan melalui lokasi pantai yang terbuka. Jalur itu dikenal juga sebagai jalur pemberangkatan atau pemulangan tenaga kerja Indonesia secara ilegal.
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Afganistan, Pakistan, Uni Emirat Arab, dan Malaysia dengan pesawat terbang, para migran itu ingin mendatangi kantor Komisi Tinggi Urusan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) di Jakarta. Melalui kantor UNHCR itu, diharapkan mereka bisa memperoleh status pengungsi atau bisa sampai dan tinggal di negara yang lebih aman.
Akan tetapi, upaya imigran untuk menghindari konflik dan mencari negara yang damai tidak semudah yang dibayangkan.
Di Jakarta, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah, Jumat (17/4), mengatakan, pertemuan tingkat menteri dalam kerangka Bali Process pada 14-15 April telah membahas akar persoalan yang memicu gelombang imigran gelap dari berbagai negara, termasuk Afganistan.
”Salah satu hal positif dari pertemuan itu adalah mengangkat akar permasalahan yang, jika tidak dikenali, akan menyebabkan gelombang migrasi ilegal terus terjadi,” kata Faiza.
Akhir-akhir ini, menurut Faiza, terjadi peningkatan gelombang imigran gelap melalui Indonesia.