Kumpulan Surat Kartini yang Memberikan Inspirasi

Kompas.com - 18/04/2009, 18:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Siapa yang tidak mengenal Raden Ajeng Kartini, putri asal Jepara ini dikenal sebagai salah seorang pahlawan wanita di Indonesia. Sumbangsih untuk memajukan kaumnya patut diberi apresiasi setinggi-tingginya. Tak heran jika sampai saat ini kelahiran Kartini masih terus diperingati. Salah satunya adalah dengan mengadakan pemutaran film dokumenter, seperti yang dilakukan Erasmus Huis, Sabtu (18/4).

Film tersebut diberi judul Noem mij maar Kartini. Kartini adalah seorang putri Bupati di daerah Jepara, ia tidak mempunyai nama belakang, atau pun nama tengah. Yang ada hanyalah gelar keluarga di depan namanya. Hidup pada abad ke-19 di Jawa saat pemerintahan Hindia-Belanda bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi bagi kaum perempuan. Banyak aturan tradisional yang harus dipatuhi, perempuan pada zaman itu tidak mempunyai kebebasan.

Hidup mereka terkekang dan terkurung dalam sangkar emas, itulah yang dirasakan Kartini. Sebelum dilarang sepenuhnya untuk keluar rumah, Kartini sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Belanda. Namun, itu tidak bertahan lama, ia dan adik perempuannya harus kembali ke 'sangkar' mereka. Merasa terkungkung, Kartini berusaha berontak.

Ia menuliskan beberapa artikel mengenai penderitaan yang dialami oleh para wanita di sekelilingnya. Beberapa artikelnya sempat dimuat surat kabar. Untuk membunuh rasa bosannya, Kartini juga sering membaca buku-buku yang berbahasa Belanda. Ia pun rajin menulis surat kepada Stella, sahabat penanya yang berada di Belanda.

Dalam surat yang ditulisnya menggunakan bahasa Belanda, Kartini secara lugas menceritakan keprihatinannya terhadap nasib perempuan-perempuan yang ada disekitarnya. Hak-hak mereka dirampas, dipaksa untuk menikah muda, mereka dilarang untuk bersekolah, dan masih banyak lagi. Kartini mempunyai keinginan untuk membawa kaumnya menuju masa yang lebih baik.

Impian Kartini lainnya adalah, ia ingin bersekolah di Eropa. Sehingga saat sang ayah menyuruhnya untuk menikah, Kartini langsung menolak. Ternyata penolakan tersebut menyebabkan ayahnya sakit keras, dokter yang mengobatinya menyarankan agar Kartini mengikuti kemauan sanga ayah, agar penyakitnya tidak semakin parah. Maka dengan sangat terpaksa Kartini menjadi istri keempat dari Raden Adi Pati Djoyo Adi Ningrat.

Setelah menikah impian Kartini tetap membara, ia terus berusaha untuk mencerdaskan kaum perempuan. Namun sayang, sebelum ia melihat cita-citanya telah terwujud, Kartini meninggal saat melahirkan putra pertamanya.

Masih Relevan

Surat-surat Kartini memang ditulis beberapa ratus tahun yang lalu. Namun sampai saat ini isi dari surat tersebut tetap relevan. Hal itu dikatakan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta. Ia merasa takjub karena beberapa ratus tahun yang lalu, seorang Kartini sudah mempunyai pemikiran untuk memajukan kaum perempuan. "Kumpulan surat itu bukti kalau RA Kartini sudah mempunyai pemikiran yang jauh ke depan, jarang sekali orang yang seperti Kartini pada saat itu," kata dia.

Meutia juga merasa, kegiatan korespondensi yang dilakukan Kartini patut dicontoh perempuan saat ini, karena tukar-menukar informasi dapat dijadikan suatu cara untuk meningkatkan derajat perempuan.

Apresiasi yang sama juga ditunjukan oleh Nicholas Van Dame, Duta Besar Belanda untuk Indonesia . Menurutnya, memberikan inspirasi bagi masyarakat internasional. Sampai-sampai kumpulan surat Kartini itu telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau