Perjuangan Siswa untuk Lulus...

Kompas.com - 19/04/2009, 21:36 WIB

KOMPAS.com-"Posisi gennya bisa diacak ya pak ?" Pertanyaan itu dilontarkan Akhsanul Niam (18), dengan mimik serius. Sriyadi (23), sang pengajar mata pelajaran Biologi, lalu menjawabnya dengan penjelasan singkat tentang mutasi gen dan kromosom.

Selain berbagai sahutan pertanyaan, suasana kelas di Bimbingan Belajar Ganesha Operation, Jalan Veteran, Kota Semarang, Minggu (19/4), itu cukup tenang. Ruang itu hanya diisi empat siswa kelas XII yang akan menghadapi ujian nasional pada Senin (20/4) ini.

Keempat siswa tampak antusias mengikuti materi selama 3 jam tersebut. "Ini hanya pemantapan materi saja, untuk mata pelajaran yang diujikan Senin ini," ujar Sriyadi yang mendapatkan bingkisan berisi kue sobek dari keempat siswanya seusai materi.

Akhsanul Niam (18), siswa Kelas XII IPA 5 SMA Negeri 4 Kota Semarang, mengaku mengikuti materi tambahan tersebut agar bisa mengulas soal-soal UN tahun lalu dan uji coba (try out) dari bimbingan belajarnya.

Para siswa memang sedang berjuang menyiapkan diri untuk pelaksanaan UN. Selain mengikuti materi di bimbingan belajar, mereka juga mendapatkan pelajaran tambahan di sekolah, kemudian belajar lagi di rumah, baik secara berkelompok maupun sendiri. "Setidaknya butuh waktu enam jam sehari untuk belajar diluar sekolah," ujar Rahmaan Innash (18), siswa kelas XII SMAN 4 Kota Semarang.

Titis Putri (18), siswa Kelas XII IPA SMAN 3 Semarang, bahkan mengikuti les privat di rumahnya agar bisa belajar dengan lebih efektif. "Saya sudah mulai sejak awal kelas XII," kata Titis yang mengaku masih gugup menghadapi UN.

Kurangi tidur

Dengan padatnya waktu untuk belajar, mereka pun mengurangi waktu bermain, beraktivitas, dan bahkan waktu tidur. "Biasa kalau tidur bangun pukul 05.00, demi belajar UN saya harus bangun pukul 02.00," kata Innash.

Tak jarang, usaha mati-matian yang ditempuh siswa tersebut sering kali tidak memperhitungkan kemampuan fisik. "Saya pernah sakit karena kelelahan. Akhirnya butuh istirahat selama dua hari," ujar Indyashadi Satya (18), siswa kelas XII lainnya.

Padahal, semua hal tersebut mereka lakukan demi lulus UN. Untuk itu, persiapan fisik dan mental pun akhirnya diperhitungkan selain penguasaan materi. "Menjelang UN ini, sebelum tidur saya pasti minum madu agar pikiran tenang," ujar Niam.

Namun, berbagai persiapan tersebut perlu dilakukan siswa berdasarkan inisiatif pribadi, walaupun membutuhkan dukungan keluarga, guru, dan lingkungannya. "Soalnya, kita sendiri kan yang butuh lulus," kata Indyashadi menimpali.

Selain persiapan pribadi, pihak sekolah juga mengadakan berbagai kegiatan untuk memompa kepercayaan diri siswa dengan mengundang motivator dan melakukan doa bersama. " Kegiatan ini diharapkan dapat menguatkan mental siswa agar terlepas dari rasa kekhawatiran yang berlebihan," ujar Kepala SMAN 3 Kota Semarang Soedjono.

Di Kota Semarang, UN untuk SMA, MA, dan SMA Luar Biasa akan diikuti 13.168 siswa, sedangkan peserta dari SMK mencapai 9.496 siswa. Dinas Pendidikan Kota Semarang menargetkan tingkat kelulusan UN tahun 2009 melampaui 90 persen.

"Target ini naik dari tingkat kelulusan tahun lalu yang mencapai 89 persen,"kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Akhmat Zaenuri.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau