Sejauh Mana Harus Memberikan Privasi?

Kompas.com - 21/04/2009, 15:36 WIB

KOMPAS.com — Banyak orang yang salah-kaprah dalam memandang sebuah hubungan. Kita sering beranggapan bahwa, ketika kita telah memilih seseorang untuk menjadi pasangan, maka sejak itulah kita tak lagi memiliki privasi. Semua hal mesti dibagi bersama pasangan. Anda tidak memiliki dunia lain selain dunia bersamanya. Padahal, Anda dan dia adalah dua pribadi yang berbeda, yang memiliki kebutuhan yang berbeda pula.

Negosiasikan saja
Kebutuhan seseorang untuk memiliki otonomi pribadi sebenarnya sangat manusiawi. Persoalannya, bagaimana membedakan antara kebutuhan bersama dan privasi? Seberapa luas privasi boleh dimiliki Anda dan pasangan? Tak ada yang bisa memetakannya karena tergantung setiap pasangan memiliki batasan privasi yang berbeda satu sama lain. Ini bergantung pada negosiasi Anda dan Si Dia.

Agar tidak terjadi persoalan di kemudian hari, identifikasikan dan ungkapkan secara gamblang apa yang disukai dan tidak disukai oleh Anda dan pasangan. Misalnya, Anda tidak suka dia membaca SMS dalam ponsel Anda, tetapi Anda tidak keberatan jika dia menjawab panggilan di ponsel ketika Anda tidak ada di tempat. Sebaliknya, dia tidak suka Anda mengutak-atik mobilnya, tetapi dia senang-senang saja jika Anda membelikannya aksesori mobil untuknya.

Dari sini, Anda bisa tahu di mana teritori Anda dan dia. Mana yang jadi milik Anda, milik dia, dan milik bersama. Ketika batas teritori Anda dan si dia semakin jelas, Anda dan dia pun akan makin mudah menjalani hubungan.

Susan Page, dalam bukunya The 8 Essential Traits of Couple Who Thrive, mengungkapkan bahwa pasangan yang harmonis akan sangat hati-hati membagi waktu, ruang, pekerjaan, uang, rahasia, dan tanggung jawab emosional mereka. Ini membuat mereka merasa bebas untuk saling bergantung dan mengekspresikan keintiman tanpa takut kehilangan jati diri.

Percaya diri dan suportif
Jangan artikan "ruang pribadi" sebagai hal-hal yang bersifat rahasia. Ini hanya masalah kebutuhan pribadi. Maksudnya, jika Anda tidak suka dia membuka e-mail Anda, bukan karena Anda menyimpan e-mail rahasia dengan mantan atau kekasih gelap, tetapi karena Anda merasa e-mail pribadi Anda tak ada kaitan dengan dirinya.

Atau ketika dia tak ingin bercerita tentang masalah kantor dengan Anda, bukan karena dia menganggap Anda tidak penting. Tetapi mungkin karena dia menganggap pekerjaan adalah wilayah pribadinya dan ia tak ingin Anda terlibat atau masuk ke dalamnya. Sederhana, kan?

Area pribadi
Setiap orang dan pasangan memiliki area pribadi yang berbeda-beda. Namanya wilayah pribadi, maka sudah sewajarnya jika dia atau Anda menginginkan wilayah itu tidak dilanggar. Berikut ini beberapa hal yang dianggap sebagai area pribadi dan area bersama. 

* Pekerjaan
Bagi sebagian orang, pekerjaan adalah wilayah pribadi yang tak seorang pun boleh mencampurinya, termasuk pasangan. Dia mungkin tak keberatan Anda mengetahui pekerjaan dan tugasnya secara umum. Tetapi dia akan keberatan jika Anda ikut campur dalam setiap persoalan kantornya. Anda dan dia sebaiknya memang tidak mencampurkan pekerjaan masing-masing. Biarlah pekerjaan menjadi tanggung jawab masing-masing karena sebagai individu, Anda dan dia tentu butuh aktualisasi diri dan eksistensi. 

* Barang-barang pribadi
Ponsel, dompet, buku harian, plus surat-surat cinta lama Anda, termasuk benda-benda pribadi. Sejauh mana benda-benda itu tak boleh diganggu, tergantung kesepakatan. 

* Uang
Dalam hal keuangan, setiap pasangan memang harus terbuka satu sama lain. Jika hubungan sudah serius, boleh-boleh saja Anda dan dia mengungkapkan besarnya gaji. Anda juga boleh mengatakan bahwa Anda memiliki beberapa aset dan rekening di beberapa bank. Namun, berapa besar dana yang disimpan, sebaiknya Anda sendiri yang tahu. 

* Aktivitas harian
Biarkan pasangan Anda mengetahui kegiatan yang akan Anda lakukan hari ini, di mana dan akan bertemu siapa saja. Ini adalah hal penting, terlebih bila Anda berdua memiliki pekerjaan yang mengharuskan bertemu banyak orang dan sering bepergian keluar kota atau keluar negeri. Namun, tahu jadwal harian pasangan bukan berarti Anda harus mengeceknya setiap saat. Telepon dia saat makan siang. Atau, ketika pasangan sedang di luar kota, telepon dia waktu sarapan sebelum dia memulai aktivitasnya. Atau, menelepon dia malam sebelum tidur juga ampuh untuk tetap menjaga kontak Anda berdua. 

* Cinta lama
Sebelum melangkah ke gerbang pernikahan, setiap orang memang perlu untuk bercerita tentang kisah cintanya di masa lalu. Namun, yang harus diingat adalah jangan membuka segala hal tentang detail kisah cinta Anda dengan mantan-mantan, apalagi menceritakan hal-hal romantis yang pernah Anda lakukan dulu.

 

Fatima Roeslan/CHIC

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau