Siapkan TKI Profesional, KBRI Singapura Kunjungi Wonogiri

Kompas.com - 21/04/2009, 21:24 WIB

WONOGIRI, KOMPAS.com — Tim dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura, Selasa (21/4), mengunjungi Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah) dan berdialog dengan Bupati Wonogiri Begug Poernomosidi, Pemerintah Kabupaten Wonogiri, dan calon tenaga kerja dari Wonogiri.

Selain menjelaskan kepada calon tenaga kerja soal kondisi saat ini mengenai pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar negeri, dalam saresehan yang digelar di Pendopo Kabupaten Wonogiri, tim yang dipimpin Sekretaris KBRI Fahmi Aris Innayah juga menjelaskan mengenai konsep pembiayaan proses rekruitmen calon penata laksana rumah tangga (PLRT) atau pembantu rumah tangga di Singapura yang efisien.

Menurut Fahmi, konsep ini penting karena hampir setiap ribuan PLRT terkena masalah. "Satu tahun ada sekitar 1.400 orang yang tinggal di shelter kita (KBRI di Singapura) akibat sistem rekrutmen yang tidak baik," ujarnya.

Fahmi menyebutkan pendapatan PLRT di Singapura sekitar 3.400 dollar Singapura per bulan. Namun, fakta lapangan yang berlaku saat ini, seorang PLRT yang baru bekerja selama delapan bulan pertama, hanya menerima 10 dollar Singapura. Gaji dipotong untuk membayar proses rekrutmen hingga diterima majikannya.

Menghadapi kondisi seperti ini, KBRI telah merumuskan konsep pembiayaan pengerahan calon PLRT sehingga selama delapan bulan pertama PLRT bisa memperoleh gaji sekitar 200 dollar Singapura.

"Ke depan walaupun ada biaya rekrutmen, biaya tersebut harus diminimalisasi, agar PLRT bisa menerima gaji yang layak selama delapan bulan pertama. Oke ada biaya, tetapi jangan kebangetan. Jangan hanya diberikan 10 dollar saja," katanya.

Dari konsep KBRI Singapura, dengan mendapat 200 dollar Singapura, setidaknya seorang PLRT bisa berbelanja kebutuhan pribadi dan mengirim uang kepada keluarga Tanah Air.

Konsep KBRI Singapura disambut positif Begug Poenomosari. Ia meminta penjelasan secara rinci, biaya-biaya apa saja yang dipangkas sehingga nanti calon PLRT dari Wonogiri bisa menerima gaji yang layak pada delapan bulan pertama. "Tolong jangan sampai ada yang dikirim dan tidak terima gaji selama delapan bulan," ujarnya.

Tim KBRI Singapura akan berada di Wonogiri selama tiga hari untuk ikut menyiapkan pembentukan balai latihan kerja modern di Wonogiri agar sesuai dengan permintaan di luar negeri.

Selain Fahmi Aris Innayah, ikut juga Ketua Bidang Pemberdayaan Unit Kerja dan Pengembangan Pasar Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) Handoko Lesmana, Staf Teknis Tenaga Kerja KBRI Singapura Isnarti Hassan, Gloria Tan sebagai staf ahli Gubernur Kepulauan Riau; dan beberapa pengurus Apjati, pemerhati buruh migran, dan Ketua Himpunan PLRT Indonesia di Singapura, Sumarni Markasan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau