Siapa Ibu Negara Pendamping Zuma?

Kompas.com - 24/04/2009, 06:41 WIB
KOMPAS.com - Tidak banyak pertanyaan muncul tentang siapa yang akan memimpin Afrika Selatan setelah pemilu, Rabu (22/4). Pemimpin partai berkuasa, Kongres Nasional Afrika, Jacob Zuma (67), adalah jawabannya.

Yang masih menjadi pertanyaan adalah siapa Ibu Negara yang akan mendampingi Zuma. Seperti halnya anggota suku Zulu lainnya, Zuma menganut poligami. Kini, dia memiliki dua istri yang masih bersamanya, yaitu Sizakele Khumalo yang dinikahi tahun 1973 dan Nompumelelo Ntuli, baru dinikahi Zuma tahun lalu.

Istrinya yang lain, Kate Mantsho Zuma, meninggal karena bunuh diri tahun 2000. Dia juga telah menceraikan salah satu istrinya, Menteri Luar Negeri Nkosazana Dlamini Zuma, tahun 1998.

Hukum Afrika Selatan (Afsel) mengakui perkawinan tradisional semacam itu. Poligami masih lazim di kalangan suku Zulu dan Swazi. Akan tetapi, semakin sedikit generasi muda mereka yang melakukannya karena dianggap mahal dan kuno.

Hingga saat ini, tidak satu pun istri Zuma memainkan peran publik dalam kehidupan Zuma atau dalam kancah politik. Khumalo memimpin rumah tangga besarnya—Zuma memiliki 18 anak—di kediaman mereka di KwaNxamalala. Dia dikenal pemalu.

Ntuli terlihat lebih aktif di luar rumah. Dia mendampingi Zuma saat memberikan suara pada pemilu parlemen. Ntuli juga menyelenggarakan pertemuan di tenggara Afsel awal tahun ini, menyerukan toleransi politik, dan mendirikan sebuah yayasan pengembangan masyarakat.

Dengan semakin dekatnya Zuma ke posisi presiden Afsel, semakin gencar pertanyaan siapa yang akan mendampingi dia melaksanakan tugas negara. Baik Zuma maupun ANC tidak menjawab pertanyaan itu karena perkawinan adalah persoalan pribadi.

Surat kabar Sunday Times, mengutip Don Mkhwanazi, anggota Dewan Sahabat Jacob Zuma, mengatakan, Zuma kemungkinan akan mengikuti tradisi dan memilih istri pertamanya, Khumalo, untuk menjadi Ibu Negara.

Putri Zuma, Duduzile, juga kemungkinan bisa menjadi pendamping resminya. Biasanya, Zuma tidak pernah ditemani siapa pun saat menjalankan tugas-tugas resmi.

Tidak sendiri

Zuma tentu bukan pemimpin dunia pertama yang mengalami masalah ini. Di kawasan Teluk, sejumlah kepala negara juga memiliki istri lebih dari satu.

Para Ibu Negara di Bahrain, Abu Dhabi, dan Arab Saudi, dikenal publik sering melakukan kegiatan sosial. Beberapa di antaranya adalah aktivis hak-hak perempuan. Namun, foto mereka tidak pernah muncul di media.

Pada tahun-tahun belakangan ini, penguasa di Dubai dan Qatar masing-masing telah menugaskan salah satu dari istri-istri mereka untuk berbicara di kampus-kampus di AS dan yayasan kemanusiaan internasional tentang isu-isu dunia Arab serta hubungan negara-negara Arab dengan Barat.

Lepas dari semuanya itu, Afsel tidak akan pernah benar-benar memiliki Ibu Negara ala Amerika yang glamor, seperti Michelle Obama atau Jackie Kennedy, atau model Ibu Negara yang terlibat politik, seperti Hillary Rodham Clinton.

Rakyat Afsel pun tampaknya juga tidak terlalu peduli dengan siapa yang akan menjadi Ibu Negara mereka. Phindile Mbatha, penjual buah di pasar kecil di Eshowe, kota dekat kediaman Zuma, malah menuturkan, mungkin negara itu sama sekali tidak memerlukan seorang Ibu Negara. (ap/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau