JK Capres, Percuma secara Politik?

Kompas.com - 24/04/2009, 10:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Bachtiar Effendy menilai, penetapan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla sebagai capres Golkar merupakan keputusan tepat untuk menunjukkan kebesaran partainya. Meskipun, ia melihat keputusan tersebut terlambat dan dominan didorong faktor harga diri dibandingkan kalkulasi politik. 

Faktor mengenyampingkan kalkulasi politik membuat Golkar harus bekerja keras  memenuhi persyaratan mengusung capres. Sesuai UU, syarat pengajuan capres adalah memenuhi 20 persen kursi di DPR atau 25 persen perolehan suara nasional. Dengan perolehan sekitar 14-15 persen, Golkar harus bergerak cepat merangkul partai lain untuk berkoalisi.

"Golkar harus kerja keras. Pertama, mengamankan syarat yang 20-25 persen, yang harus diperoleh entah darimana," ujar Bachtiar, sebelum mengisi diskusi di Gedung DPD, Jakarta, Jumat ( 24/4 ).

Para pengurus di internal Golkar juga harus bersatu dan mengikis faksi-faksi yang selama ini bergerak sendiri-sendiri. "Ketiga, JK kalau betul mau capres, harus punya tim yang kuat untuk kerja sungguh-sungguh memenangkannya," kata dia.

Tanpa memenuhi ketiga hal tersebut, menurut Bachtiar, pencalonan JK akan percuma secara politik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau