Sekali lagi, ANC mengukuhkan kekuasaan mereka di Afrika Selatan (Afsel) sejak tahun 1994. ANC pun tampaknya bisa mengamankan dua pertiga mayoritas suara di parlemen yang diperlukan untuk bisa meloloskan rencana anggaran besar, rancangan undang-undang, dan mengubah konstitusi.
”Kami tahu penghitungan sedang berjalan, tetapi kami bisa mencium 70 persen (suara),” kata Ketua ANC Jacob Zuma di hadapan 2.000 pendukungnya dari atas panggung tempat dia menyanyi dan menari. Dengan hasil ini, Zuma hampir pasti menjadi presiden Afsel saat parlemen baru bertemu pada Mei mendatang.
Hingga Jumat, ANC telah mengantongi 67 persen suara, jauh meninggalkan lawan-lawannya. Partai oposisi baru, Kongres Rakyat (COPE), yang semula dinilai mampu menebarkan ancaman bagi ANC, hanya berada di tempat ketiga dengan 7,6 persen suara. Oposisi utama, Aliansi Demokratik (DA), mendapat 15,9 persen suara. Mereka juga mengungguli ANC di Provinsi Western Cape.
Juru bicara ANC, Jessie Duarte, menghapus keraguan bahwa ANC akan kesulitan memperoleh dua pertiga suara di parlemen. ”Anda tidak butuh dua pertiga suara untuk memerintah sebuah negara. Anda perlu kehendak politik untuk melakukannya,” katanya.
Dengan sukacita, Zuma mengatakan kepada ribuan pendukungnya bahwa kalangan skeptis yang mengatakan ANC tidak akan mendapat 60 persen suara kini mengatakan 70 persen. Zuma dengan penuh semangat mengajak kerumunan orang-orang itu bergembira. Mengenakan kaus merah dan jaket kulit, Zuma berjingkrak-jingkrak bersama sekelompok penari kemudian bergoyang dengan penari lainnya.
”Saya ingin berterima kasih kepada kalian semua malam ini. Kita menemui pemilih negara ini, berbicara dengan mereka, dan menyebarkan kebijakan kita. Mereka tahu apa yang kita katakan,” ujar Zuma seusai menari dan menyanyi.
Para pendukungnya juga tak kalah riuh. ”Saya di sini untuk berpesta. Kami menang pemilu dengan adil dan jujur. Ini pertama kalinya saya memilih dan saya sangat senang,” kata Veronica Moleme, salah seorang pendukung ANC.
Sebuah surat kabar Afsel edisi Jumat menyebutkan, tidak diragukan lagi Zuma akan menjadi presiden selanjutnya. Akan tetapi, dia memiliki warisan Nelson Mandela yang harus dilestarikan di tengah tantangan besar yang dihadapi Afsel.
”Jika dia tidak takut dengan besarnya angka pengangguran, kemiskinan, dan kejahatan, serta sistem pendidikan dan kesehatan yang merosot, dia akan menjadi (pemimpin),” sebut mingguan Mail&Guardian dalam tajuk rencananya.
”Dia bisa menjadi orang yang mengkhianati warisan Mandela atau orang yang bisa mewujudkan janji,” lanjut mingguan itu.
Analis menilai, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi ANC berasal dari krisis perekonomian global. ”Guna menghadapi dampak resesi, mereka harus bisa menjadi pemerintahan yang lebih efektif daripada ANC di masa lalu,” kata Steven Friedman, Direktur Pusat Studi Demokrasi Afsel.
Pemimpin COPE Mvume Dandala mengatakan, partainya tidak melihat hasil pemilu kali ini sebagai penolakan. ”Kami kira kami telah memberi massa yang kritis,” katanya.
COPE dibentuk oleh orang-orang yang loyal kepada mantan Presiden Thabo Mbeki, yang dinilai mayoritas warga kulit hitam Afsel bersekongkol menjatuhkan Zuma. Oleh karena itu, Zuma dinilai sebagai antitesis Mbeki yang berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi Afsel, tetapi gagal mengatasi angka penderita AIDS terbanyak di dunia.
Analis mengatakan, kemunculan COPE berhasil menggairahkan tahap awal kampanye pemilu. Sayangnya, popularitas partai itu merosot pada pekan-pekan terakhir menjelang pemungutan suara.
Diperkirakan COPE akan membentuk koalisi dengan DA pascapemilu. Keduanya bisa memunculkan ancaman nyata atas dominasi ANC di Afsel.
”Kami harus meluruskan kembali politik di Afrika Selatan dan itulah yang akan saya lakukan dalam lima tahun ke depan,” kata Helen Zille, pemimpin DA.