Pundi Pengasong di Makam Bung Karno

Kompas.com - 29/04/2009, 07:43 WIB

BLITAR, KOMPAS.com — Perempuan separuh abad itu dengan sigap bangkit dari duduknya sambil menyodorkan bunga dan aneka suvenir ketika tim Ekspedisi Susur Selatan Jawa 2009 Harian Kompas memasuki gerbang kompleks makam Bung Karno di Blitar. Ibu Sri Julaikha namanya. Tapi warga akrab memanggilnya Bu Pangat. Di lengannya penuh dengan barang dagangan, dari belasan bungkus kantong plastik berisi bunga, tasbih, keranjang berisi bandul kunci, hingga serenteng foto keluarga Bung Karno.

"Mari Mas bunga untuk ziarah, atau mau foto Bung Karno, ini ada fotonya sekeluarga waktu zaman dulu," ujarnya sambil menyodorkan harga yang dia bilang sangat murah. Sambil lesehan di halaman makam, KOMPAS.com menyempatkan bercengkerama dengannya. Dia mengaku sudah 20 tahun lamanya, yaitu sejak masih bujang, bekerja sebagai pedagang asongan di makam Presiden RI pertama tersebut.

Orang bisa saja memandang rendah profesinya. Tapi ternyata dari mata pencaharian itu saja dia bisa menyekolahkan dua anaknya. "Syukur saya bisa membiayai anak saya tamat sekolah, yang satu lulusan SMA dan satunya tamat kuliah, dan keduanya sudah bekerja," ungkapnya.

Sekarang penghasilan yang dia dapat, dipakainya untuk menafkahi diri sendiri dan suaminya yang tidak bisa bekerja lagi serta ibunya yang sudah sangat renta. Dia bercerita, dulu tahun 1990-an pengunjung makam sangat banyak. Karena berlatar belakang dari keluarga yang tidak mampu, dia mau melakoni pekerjaan dan keterusan hingga kini. "Sekarang lumayan masih ada penghasilan meskipun di hari biasa sedikit yang membeli, tapi ramai saat liburan atau hari minggu," tambahnya.

Berdasarkan data petugas pengelola setempat, tercatat 1.000 orang dalam sebulan mengunjungi makam dari sekadar ziarah hingga berwisata sejarah mengunjungi museum dan perpustakaan yang ada di kompleks makam. Ternyata Bung Karno benar-benar menjadi magnet bagi kota di jalur selatan Jawa ini. Keberadaan nama besar Bapak Proklamator RI tersebut mampu mendongkrak taraf hidup rakyat kecil yang timpang tertinggal dibanding jalur utara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau