Kandang-kandang Babi Disemprot Desinfektan

Kompas.com - 29/04/2009, 14:42 WIB

CIREBON, KOMPAS.com — Petugas Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dan Kehutanan, Rabu (29/4), menyemprot kandang-kandang babi milik peternak rumahan di Desa Jamblang, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Tujuannya, mengantisipasi kemungkinan penyebaran virus H1N1, penyebab flu babi.

Tiga peternakan babi di Desa Jamblang didatangi Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dan Kehutanan (P3K) Kabupaten Cirebon. Kondisi kandang para peternak rumahan tersebut sangat sederhana, bahkan kurang terawat sehingga risiko munculnya penyakit hewan sangat tinggi.

Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Kesehatan Hewan Kabupaten Cirebon Suhartono, penyemprotan dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan penyebaran virus flu babi. Selain itu, juga dilakukan pemantauan kesehatan babi yang diternakkan. "Kandang babi yang sederhana dan tidak terawat memang punya risiko munculnya penyakit lebih besar," kata Suhartono.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit dan Obat Hewan Dinas P3K Cirebon Encus Suswaningsih menyatakan, meski kemungkinan penyebaran virus H1N1 di Indonesia yang beriklim tropis lebih kecil, antisipasi tetap perlu dilakukan.

Selain itu, butuh kewaspadaan dari peternak sendiri untuk mengetahui gejala-gejala flu babi yang hampir sama seperti gejala flu burung. Di antaranya, hewan demam, keluar cairan pada hidung dan mulut, sesak napas, serta napsu makan turun. "Yang lebih spesifik dari flu babi adalah diare pada ternak yang tidak dijumpai pada gejala flu burung," tambah Encus.

Budi (20) dan Oong (50), peternak babi rumahan di Desa Jamblang, mengaku tidak khawatir dengan penyakit flu babi yang sedang mewabah di luar negeri. Menurut Budi, peternak dan konsumen di Cirebon belum khawatir. Bahkan, saat flu burung mewabah di Indonesia, peternak babi di Jamblang tidak terpengaruh. Pasalnya, selain populasi yang mereka ternakkan sedikit, jika tak laku dijual babi itu mereka konsumsi sendiri.

Kepala Dinas P3K Ali Effendi menjelaskan, antisipasi selanjutnya adalah pengawasan lalu lintas hewan ternak babi antarkabupaten maupun antarprovinsi lebih diperketat. Salah satunya dengan pengetatan surat keterangan asal hewan yang berisi keterangan kondisi kesehatan dan asal ternak. Pengawasan itu dilakukan di UPT Laboratorium Losari yang terletak di perbatasan Jabar dan Jateng.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau