JAKARTA, KOMPAS.com — Langkah koalisi besar yang diusung sejumlah tokoh dan partai politik macam Partai Golkar, PDI-P, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) seharusnya tidak mengusung orang yang itu-itu lagi.
"Sekarang ini Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, dan juga Prabowo Subianto kan masih sama-sama bernafsu untuk maju sebagai capres. Koalisi seharusnya kan tidak harus mengusung orang-orang yang itu-itu lagi. Jika yang maju mereka-mereka lagi kan menunjukkan kaderisasi tidak berjalan," ujar peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikrar Nusa Bhakti, Jumat (1/5), saat dihubungi per telepon ketika berada di Papua.
Ikrar mengakui, setiap parpol tentunya bakal berhitung soal apa yang bisa mereka dapat atau keuntungan apa yang mereka bisa peroleh jika mengusung calon alternatif lain. Biasanya, parameter keuntungannya seperti porsi kursi di kabinet.
Lebih lanjut Ikrar menambahkan, koalisi besar hanya akan berlangsung secara efektif jika semua pihak paling tidak bersedia menurunkan ambisi masing-masing untuk tidak lagi ngotot mengajukan jago sendiri untuk dicalonkan sebagai capres, terutama Megawati, Kalla, dan Prabowo.
"Akan jauh lebih baik lagi jika parpol-parpol tadi kemudian mencari sekaligus mengusung calon alternatif lain, yang tentunya punya tingkat keterpilihan lebih tinggi atau setara Susilo Bambang Yudhoyono, punya kredibilitas dan jam terbang politik yang tinggi, serta punya integritas," ujar Ikrar.
Jika hal tersebut bisa dilakukan, Ikrar yakin semua itu akan sangat berguna bagi proses regenerasi kepemimpinan nasional sehingga orang yang maju dalam pemilihan umum (pemilu) presiden-wakil presiden mendatang bukan orang yang itu-itu lagi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang