Sri Lanka Serang Rumah Sakit, 64 Orang Tewas

Kompas.com - 03/05/2009, 05:48 WIB

KOLOMBO, KOMPAS.com — Sedikitnya 64 warga sipil tewas dan 87 orang luka-luka saat tentara Sri Lanka membombardir sebuah rumah sakit di wilayah yang dikuasai pemberontak Macan Tamil, Sabtu (2/5).

Tamilnet.com melaporkan, dua mortir telah ditembakkan oleh pasukan pemerintah dan mengenai sebuah rumah sakit darurat di Mulliavaikal, Distrik Mullaitivu. Itu terjadi tiga hari setelah lokasinya diberitahukan kepada militer melalui Komisi Palang Merah Internasional (ICRC).

Belum ada komentar dari ICRC yang telah dibatasi aksesnya ke zona pertempuran, tapi militer membantah telah menyerang tempat tersebut. "Kami tidak melakakan serangan, tapi kami mendengar suara keras di dalam zona larangan serangan dan itu dapat merupakan tembakan yang gagal oleh Macan Tamil," kata juru bicara militer Udaya Nanayakkara.

Tuduhan dan pernyataan kedua belah pihak tidak dapat dibuktikan karena tidak ada pengawas independen di daerah konflik dan pemerintah menolak seruan internasional untuk membolehkan akses kemanusiaan netral.

Insiden ini terjadi ketika utusan khusus Jepang untuk Sri Lanka Yasushi Akashi mengadakan pembicaraan dengan Presiden Mahinda Rajapakse mengenai krisis kemanusiaan. Seorang juru bicara presiden mengatakan Akashi telah diberitahu bahwa pemerintah ingin Macan Tamil menyerah dan membolehkan sekitar 20.000 warga sipil yang masih terperangkap pergi dengan aman.

Kementerian pertahanan Sri Lanka, Sabtu, menyangkal gambar satelit yang dikeluarkan oleh PBB yang membuktikan bahwa pasukan keamanan telah menembak sebuah tempat sipil bulan lalu. Kementerian pertahanan mengatakan tuduhan itu, yang berdasar pada gambar udara PBB yang disiarkan di situs Internet UNOSAT dan telah digunakan di beberapa saluran televisi asing, tidak memiliki validitas ilmiah.

Gambar itu menunjukkan sejumlah lubang yang terbentuk di dalam zona tersebut antara 15 dan 19 April, hari sebelum militer menembus pertahanan Macan Tamil dan warga sipil mulai mengalir keluar.

Sri Lanka terus membantah menggunakan senjata berat terhadap daerah-daerah berpenduduk sipil dan pekan lalu mengumumkan negara itu telah memerintahkan pasukan keamanan untuk tidak menggunakan senjata keliber berat dan serangan udara.

PBB memperkirakan, sebanyak 50.000 warga sipil terperangkap di jalur pantai sempit tempat Macan Tamil akan mengadakan pertahanan terakhir. Pasukan pemerintah mengatakan, hanya sekitar 20.000 orang yang masih tinggal di tempat itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau