RPH Babi Kapuk Direlokasi

Kompas.com - 06/05/2009, 04:07 WIB

Jakarta, Kompas - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan relokasi rumah potong hewan babi di Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Sebagai kota metropolitan, Jakarta sebaiknya tidak memiliki rumah potong hewan untuk menghindari penyebaran penyakit dari hewan ke manusia.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto, Selasa (5/5) di Balaikota DKI Jakarta, mengatakan, lokasi baru yang disiapkan untuk relokasi rumah potong hewan (RPH) babi adalah di Ciangir, Kabupaten Tangerang. Lokasi yang akan digunakan berdekatan dengan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

”Pemprov DKI Jakarta dan Pemkab Tangerang sudah sepakat untuk menggunakan lahan seluas 98 hektar untuk TPA. Sebagian lahan akan digunakan untuk relokasi RPH babi,” kata Prijanto seusai bertemu dengan peserta musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) tingkat provinsi.

Prijanto mengatakan, RPH babi itu dapat digunakan untuk Jakarta dan Tangerang sehingga kedua wilayah saling diuntungkan. Relokasi RPH juga disiapkan untuk ayam dan sapi sehingga tidak perlu ada RPH di Jakarta.

RPH babi di Kapuk berada di tengah permukiman padat. Limbah dan bau kotoran sering keluar dari RPH karena buruknya instalasi pengolahan air limbah sehingga kerap memicu protes warga sekitarnya.

Wali Kota Jakarta Barat Joko Ramadhan menyampaikan keberatan warganya terhadap keberadaan RPH babi kepada Prijanto dalam musrenbang tingkat provinsi. Selain bau dan limbah, sebagian besar warga yang beragama Islam merasa terganggu dengan banyaknya jumlah babi di RPH itu.

 

”Jakarta adalah kota metropolitan, tidak selayaknya ada RPH babi di kota ini. RPH sebaiknya direlokasi ke kota lain dan Jakarta hanya menerima kiriman dagingnya,” kata Joko.

Menurut Prijanto, rencana relokasi akan diajukan kepada DPRD pada tahun ini agar dapat disetujui untuk tahun anggaran 2010. Jika disetujui DPRD, pembangunan gedung RPH senilai Rp 10 miliar dapat dilakukan bersama dengan pembangunan tempat pengelolaan sampah terpadu.

Selain rencana relokasi, Pemprov menerapkan standar kebersihan yang tinggi bagi pegawai RPH babi guna mencegah penularan influenza A. Setiap pegawai RPH babi yang selesai bekerja harus menanggalkan pakaian kerjanya, mandi bersih, dan pulang dengan baju dan badan yang bersih.

Revitalisasi

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan, Peternakan, Kelautan, dan Ketahanan Pangan DKI Jakarta Edy Setiarto mengatakan, pihaknya baru saja merevitalisasi RPH Kapuk dengan dana Rp 3 miliar. Proses revitalisasi sudah mendekati proses akhir dan tinggal menyelesaikan pembuatan kandang dalam, pemasangan alat potong, dan pembangunan instalasi pengolahan air limbah.

Revitalisasi dilakukan dengan membangun gedung baru seluas 1.700 meter persegi di sebelah gedung RPH yang lama. Gedung yang baru juga ditinggikan 1,7 meter agar tidak mudah tergenang banjir.

Revitalisasi itu, kata Edy, juga bertujuan untuk meningkatkan pengawasan terhadap kesehatan babi. Babi yang baru datang akan diperiksa kesehatannya di kandang luar. Babi yang sudah dipastikan sehat dimasukkan ke kandang dalam dan akan diperiksa lagi sebelum dipotong.

Meskipun ada keberatan dari warga sekitar, Pemprov tidak akan menghentikan pasokan dan pemotongan babi di RPH itu. Setiap hari terdapat 500 ekor babi yang dipotong di RPH itu untuk menghasilkan daging sebanyak 25 ton.

Jika pasokan dan pemotongan babi dihentikan, konsumen daging babi akan beralih ke daging ayam dan sapi. Dampaknya, Jakarta justru akan mengalami kelangkaan kedua jenis daging itu dan harganya bakal meningkat drastis.

Kalau sampai harga ayam sampai melambung, masyarakat akan keberatan. Daging sapi dan ayam banyak dibutuhkan warga untuk berbagai keperluan sehari-hari dan pesta. (ECA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau