Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto, Selasa (5/5) di Balaikota DKI Jakarta, mengatakan, lokasi baru yang disiapkan untuk relokasi rumah potong hewan (RPH) babi adalah di Ciangir, Kabupaten Tangerang. Lokasi yang akan digunakan berdekatan dengan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.
”Pemprov DKI Jakarta dan Pemkab Tangerang sudah sepakat untuk menggunakan lahan seluas 98 hektar untuk TPA. Sebagian lahan akan digunakan untuk relokasi RPH babi,” kata Prijanto seusai bertemu dengan peserta musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) tingkat provinsi.
Prijanto mengatakan, RPH babi itu dapat digunakan untuk Jakarta dan Tangerang sehingga kedua wilayah saling diuntungkan. Relokasi RPH juga disiapkan untuk ayam dan sapi sehingga tidak perlu ada RPH di Jakarta.
RPH babi di Kapuk berada di tengah permukiman padat. Limbah dan bau kotoran sering keluar dari RPH karena buruknya instalasi pengolahan air limbah sehingga kerap memicu protes warga sekitarnya.
Wali Kota Jakarta Barat Joko Ramadhan menyampaikan keberatan warganya terhadap keberadaan RPH babi kepada Prijanto dalam musrenbang tingkat provinsi. Selain bau dan limbah, sebagian besar warga yang beragama Islam merasa terganggu dengan banyaknya jumlah babi di RPH itu.
”Jakarta adalah kota metropolitan, tidak selayaknya ada RPH babi di kota ini. RPH sebaiknya direlokasi ke kota lain dan Jakarta hanya menerima kiriman dagingnya,” kata Joko.
Menurut Prijanto, rencana relokasi akan diajukan kepada DPRD pada tahun ini agar dapat disetujui untuk tahun anggaran 2010. Jika disetujui DPRD, pembangunan gedung RPH senilai Rp 10 miliar dapat dilakukan bersama dengan pembangunan tempat pengelolaan sampah terpadu.
Selain rencana relokasi, Pemprov menerapkan standar kebersihan yang tinggi bagi pegawai RPH babi guna mencegah penularan influenza A. Setiap pegawai RPH babi yang selesai bekerja harus menanggalkan pakaian kerjanya, mandi bersih, dan pulang dengan baju dan badan yang bersih.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan, Peternakan, Kelautan, dan Ketahanan Pangan DKI Jakarta Edy Setiarto mengatakan, pihaknya baru saja merevitalisasi RPH Kapuk dengan dana Rp 3 miliar. Proses revitalisasi sudah mendekati proses akhir dan tinggal menyelesaikan pembuatan kandang dalam, pemasangan alat potong, dan pembangunan instalasi pengolahan air limbah.
Revitalisasi dilakukan dengan membangun gedung baru seluas 1.700 meter persegi di sebelah gedung RPH yang lama. Gedung yang baru juga ditinggikan 1,7 meter agar tidak mudah tergenang banjir.
Revitalisasi itu, kata Edy, juga bertujuan untuk meningkatkan pengawasan terhadap kesehatan babi. Babi yang baru datang akan diperiksa kesehatannya di kandang luar. Babi yang sudah dipastikan sehat dimasukkan ke kandang dalam dan akan diperiksa lagi sebelum dipotong.
Meskipun ada keberatan dari warga sekitar, Pemprov tidak akan menghentikan pasokan dan pemotongan babi di RPH itu. Setiap hari terdapat 500 ekor babi yang dipotong di RPH itu untuk menghasilkan daging sebanyak 25 ton.
Jika pasokan dan pemotongan babi dihentikan, konsumen daging babi akan beralih ke daging ayam dan sapi. Dampaknya, Jakarta justru akan mengalami kelangkaan kedua jenis daging itu dan harganya bakal meningkat drastis.
Kalau sampai harga ayam sampai melambung, masyarakat akan keberatan. Daging sapi dan ayam banyak dibutuhkan warga untuk berbagai keperluan sehari-hari dan pesta.