JAKARTA, KOMPAS.com — Capres dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), masih merahasiakan siapa nama calon pendamping yang sudah dikantonginya saat ini. Sejumlah pengamat pun menyampaikan spekulasinya, siapa kira-kira yang akan dipilih SBY. Dengan mempertimbangkan masa depan Demokrat pasca-2014, SBY kemungkinan tak memilih pendamping berusia "balita" alias berusia di bawah lima puluh tahun. Mengapa?
Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi, melihat, salah satu pertimbangan SBY memilih pendamping adalah pertimbangan politis. Sebab, pemilu tahun ini menjadi kesempatan terakhir bagi SBY bertarung di arena pilpres.
"Pertimbangan politis akan menjadi pertimbangan SBY. Kalau SBY memilih cawapres 'balita' atau di bawah lima puluh tahun, akan sama seperti 'membesarkan anak macan'," kata Burhanuddin, pada diskusi "Cawapres SBY: Teknokrat atau Politisi", Rabu (6/5) di Jakarta.
Maksud analisa Burhanuddin, calon berusia 'balita' akan berpeluang menjadi capres pada pemilu lima tahun mendatang. Sementara, Demokrat harus melakukan kaderisasi pasca-'lengser'nya SBY dari bursa capres. "Calon yang berpotensi ini akan mematikan kaderisasi di Demokrat dan bisa membuat Demokrat kewalahan di tahun 2014. Apalagi, kalau calonnya orang partai di luar Demokrat," ujar dia.
Analisa yang sama juga dilontarkan peneliti Centre for Electoral Reform (CETRO), Refly Harun. Ia juga melihat kemungkinan SBY memilih calon yang tidak berpotensi sebagai capres. "SBY akan mencari cawapres yang tidak memiliki potensi untuk menjadi capres. Kecuali, jika SBY hanya mau jadi presiden, setelah tidak peduli dengan partainya," ujar Refly.
Berdasarkan hal tersebut, kedua pengamat ini memprediksi, SBY akan merasa nyaman memilih calon teknokrat dan bukan yang berasal dari partai politik. "Karena pada akhirnya, atau menjelang lima tahun ke depan, bisa dibujuk masuk menjadi kader partainya dan bisa digadang sebagai capres pada Pilpres 2004," ujar Refly.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang