Pengamat: SBY Tak Akan Pilih Cawapres "Balita"

Kompas.com - 06/05/2009, 11:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Capres dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), masih merahasiakan siapa nama calon pendamping yang sudah dikantonginya saat ini. Sejumlah pengamat pun menyampaikan spekulasinya, siapa kira-kira yang akan dipilih SBY. Dengan mempertimbangkan masa depan Demokrat pasca-2014, SBY kemungkinan tak memilih pendamping berusia "balita" alias berusia di bawah lima puluh tahun. Mengapa?

Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi, melihat, salah satu pertimbangan SBY memilih pendamping adalah pertimbangan politis. Sebab, pemilu tahun ini menjadi kesempatan terakhir bagi SBY bertarung di arena pilpres.

"Pertimbangan politis akan menjadi pertimbangan SBY. Kalau SBY memilih cawapres 'balita' atau di bawah lima puluh tahun, akan sama seperti 'membesarkan anak macan'," kata Burhanuddin, pada diskusi "Cawapres SBY: Teknokrat atau Politisi", Rabu (6/5) di Jakarta.

Maksud analisa Burhanuddin, calon berusia 'balita' akan berpeluang menjadi capres pada pemilu lima tahun mendatang. Sementara, Demokrat harus melakukan kaderisasi pasca-'lengser'nya SBY dari bursa capres. "Calon yang berpotensi ini akan mematikan kaderisasi di Demokrat dan bisa membuat Demokrat kewalahan di tahun 2014. Apalagi, kalau calonnya orang partai di luar Demokrat," ujar dia.

Analisa yang sama juga dilontarkan peneliti Centre for Electoral Reform (CETRO), Refly Harun. Ia juga melihat kemungkinan SBY memilih calon yang tidak berpotensi sebagai capres. "SBY akan mencari cawapres yang tidak memiliki potensi untuk menjadi capres. Kecuali, jika SBY hanya mau jadi presiden, setelah tidak peduli dengan partainya," ujar Refly.

Berdasarkan hal tersebut, kedua pengamat ini memprediksi, SBY akan merasa nyaman memilih calon teknokrat dan bukan yang berasal dari partai politik. "Karena pada akhirnya, atau menjelang lima tahun ke depan, bisa dibujuk masuk menjadi kader partainya dan bisa digadang sebagai capres pada Pilpres 2004," ujar Refly.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau