TEGAL, KOMPAS.com - Pengelola objek wisata (OW) pemandian air panas Guci, Kabupaten Tegal, Jateng, rugi ratusan juta rupiah karena terjadi penurunan tingkat kunjungan wisatawan terkait dengan adanya kabar meningkatnya aktivitas Gunung Slamet.
Kepala UPTD Guci Kabupaten Tegal, Imam Sutanto di Tegal, Rabu, mengatakan, sejak dua pekan terakhir ini, jumlah wisatawan yang berkunjung ke OW Guci hanya sekitar 30 orang, padahal saat hkondisi normal mampu mencapai ratusan orang.
"Penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Guci setelah adanya aktivitas Gunung Slamet meningkat, sehingga kondisi itu berdampak terhadap penurunan pendapatan hingga ratusan juta rupiah," katanya.
Meningkatnya aktivitas Gunung Slamet ini, katanya, telah melemahkan beberapa sektor pendapatan, seperti parkir, tiket masuk, tiket pemandian air panas, dan lainnya.
Ia mengatakan, sebenarnya kondisi aktivitas Gunung Slamet belum cukup berbahaya sehingga wisatawan tidak perlu khawatir untuk berkunjung ke objek wisata Guci.
"Kami harapkan para wisatawan yang akan berkunjung ke objek wisata Guci tidak perlu khawatir mengingat kondisi Gunung Slamet masih relatif aman," katanya.
Menurut dia, untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung, pihak OW Guci akan terus mengecek suhu panas air dan udara setiap tiga jam sekali. Suhu air panas di OW Guci saat ini dalam kondisi normal, yaitu berkisar 42 derajat celcius dan suhu udara sekitar 21 derajat celcius.
"Saat ini, kondisi air panas masih aman bagi pengunjung yang ingin menikmati pemandian air panas Guci. Jadi aktivitas Gunung Slamet belum berdampak terhadap kenyamanan di lokasi obyek wisata," katanya.
Ia mengatakan, pihak pengelola OW Guci belum ada rencana untuk menutup lokasi wisata itu selama kondisi suhu air panas dan udara masih stabil. "Penutupan akan kami lakukan jika suhu air panas telah mencapai 50 derajat celcius," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang