MINGORA, KOMPAS.com — Sejumlah penduduk sipil terbaring di bangsal rumah sakit dan sejumlah penduduk lain berjuang untuk memenuhi kebutuhan pangan anak-anak mereka. Kejadian ini berlangsung saat beberapa pesawat tempur Pakistan menggempur Lembah Swat yang dikuasai Taliban, Sabtu (9/5).
Pasukan dan pesawat-pesawat tempur Pakistan berhasil menewaskan beberapa militan dalam pertempuran yang dilancarkan di barat laut Lembah Swat. Serangan militer itu mengakibatkan eksodus ratusan ribu warga yang berusaha menyelamatkan diri.
Masalah darurat kemanusiaan ini telah menambah pelik guncangan politik, ekonomi, serta keamanan di negara nuklir tersebut. Sejumlah pengungsi yang putus asa dengan kondisi kehidupan mereka dilaporkan telah menjarah suplai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di satu kamp dengan mengambil selimut dan minyak goreng.
Sebuah serangan rudal yang diduga milik AS telah menewaskan 9 orang, sebagian besar warga asing di Waziristan Selatan, markas Taliban di dekat perbatasan Afghanistan. Identitas korban tewas belum diketahui.
Perdana Menteri Pakistan Yousuf Raza Gilani telah mengalokasikan dana jutaan dollar AS untuk membantu warga di sebuah wilayah yang telah meragukan kepimpinannya akibat tekanan masalah kemanusiaan yang mereka hadapi. Yousuf Raza Gilani mencoba meyakinkan mereka dengan mengatakan militer Pakistan "hanya akan berhasil menumpas Taliban apabila mendapatkan dukungan massa."
Dengan mendapatkan dukungan AS, Pakistan melancarkan serangan militer berskala penuh, Kamis (7/5), untuk menghentikan perluasan kendali Taliban di distrik yang berada pada radius 100 kilometer dari ibu kota Islamabad. Pasukan Pakistan berjuang untuk merebut Lembah Swat dan distrik di sekitarnya dari Taliban yang mendominasi bentangan wilayah menuju perbatasan Afghanistan dan diduga oleh AS sebagai lokasi persembunyian pemimpin al Qaeda Osama bin Laden.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang