KNKT: TNI AU Mampu Selidiki Penyebab Kecelakaan

Kompas.com - 22/05/2009, 09:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi memercayai bila TNI Angkatan Udara mampu menyelidiki penyebab jatuhnya pesawat angkut jenis C-130 Hercules Alpha 1325 di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Rabu (20/5) pagi. Lalu, mengambil tindakan perbaikan untuk mencegah kejadian serupa.

"Hari ini (Kamis), TNI AU pasti sudah menerjunkan Panitia Penyidik Kecelakaan Pesawat Udara ke lokasi kejadian. Saya yakin mereka mampu menyelidiki kecelakaan, tanpa melibatkan pihak luar," kata Tatang, Jumat (22/5) di Jakarta.

Menurut Tatang, peralatan investigasi dan tim penyelidik TNI AU, bahkan lebih lengkap dari KNKT. "Lagi pula, secara institusional sulit ada kerja sama antara TNI AU dan KNKT. Sebab KNKT hanya mengurusi penerbangan sipil. Terlebih, pesawat Hercules jarang digunakan oleh penerbangan sipil," kata dia.

Meski demikian, Tatang tak menampik bila ada tawaran kerja sama personal untuk mengurai penyebab kecelakaan pesawat Hercules itu. "Saya kan mantan perwira tinggi TNI AU, jadi pasti akan membantu TNI AU bila diminta," kata dia.

Tatang adalah pensiunan marsekal muda, yang juga lulusan USAF Accident Investigation Course 1979.

Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo mengatakan, jelas ada kekurangan dana dalam penerbangan militer di Indonesia berefek pada jatuhnya beberapa pesawat miter. "Saya sarankan, lebih baik bila dunia penerbangan Indonesia bersatu untuk membantu kelaikterbangan pesawat milik TNI AU," kata dia.

Dikatakan Dudi, dari prinsip dasarnya, nyaris tiada beda antara pesawat militer dan pesawat sipil. Dengan demikian, kata Dudi, investigator dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi seharusnya dapat membantu penyelidikan jatuhnya pesawat di Magetan.

"Saya mengakui, saat ini sangat sulit mengharapkan ada kerja sama antara TNI AU dan KNKT. Tetapi, saya mempunyai impian bila keduanya bekerja sama, dengan tujuan untuk meminimalisir kecelakaan terbang," kata Dudi.

Dudi mencontohkan, ketika pesawat CN-235-220 versi militer buatan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) jatuh di Lanud Gorda, Serang pada 22 Mei 1997, banyak pihak dilibatkan untuk membahas penyebab jatuhnya pesawat. "Saya waktu itu, turut juga dilibatkan," kata dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau