PSK Argorejo dan Sumber Rejo Wajib Pakai Kontrasepsi

Kompas.com - 22/05/2009, 22:18 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com- Ketua Resosialisasi  Argorejo dan Sumber Rejo Semarang Suwandi Eko Putranto mengancam akan menutup tempat usaha di lokalisasi itu jika pemiliknya tak mengharuskan anak buahnya menggunakan alat kontrasepsi.

Menurut Eko, pengurus Resosialisasi sudah berkomitmen dengan peraturan yang dibuatnya, salah satunya mewajibkan pemakaian alat kontrasepsi bagi pekerja seks (anak asuh) yang melayani tamu.

"Hal tersebut dilakukan untuk mencegah dan meminimalisir penularan penyakit IMS," katanya setelah sosialisasi dan penggalakan program Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual (PMTS) di Balai Resosialisasi Argorejo, Semarang, Jumat (22/5).

Selain menggunakan kontrasepsi, setiap anak asuh juga wajib melakukan pemeriksaan kesehatan setiap dua minggu sekali untuk mengontrol penderita infeksi menular seksual (IMS).

"Apabila mereka ternyata diketahui mengidap IMS, maka mereka akan kami istirahatkan hingga penyakitnya sembuh, minimal sampai tiga bulan," katanya.

Ia menegaskan, toleransi yang diberikan terhadap anak asuh terkena IMS hanya tiga kali. "Kalau selama tiga kali berturut-turut mereka diketahui mengidap IMS yang dibuktikan dengan hasil pemeriksaan kesehatan, maka mereka akan dikeluarkan," katanya.

Untuk itu, ia mengimbau agar para pemilik lokalisasi untuk sama-sama peduli dan ikut mengawasi para anak asuhnya. Pengawasan dapat dilakukan dengan mengharuskan anak asuhnya menggunakan alat kontrasepsi setiap melayani tamu. "Selama ini mereka (pemilik) tidak peduli dengan hal itu," katanya.

"Karena peraturan ini juga berkaitan erat dengan pemilik lokalisasi, mereka diharapkan dapat bekerja sama dengan baik agar lokalisasi ini terbebas dari penyakit IMS," katanya.

Untuk diketahui, di lokalisasi ini terdapat sekitar 700 PSK yang bernaung di bawah 150 pemilik lokalisasi. "Setiap pemilik lokalisasi memiliki sekitar empat anak asuh," katanya.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular Langsung Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Tri Susilo Hadi, mengatakan, diperlukan penanggulangan yang bersifat komprehensif untuk mengatasi penyebaran penyakit IMS.

Kemudian, lanjutnya, setiap anak asuh juga diwajibkan untuk meminum obat yang berguna membunuh virus dan bakteri penyebab IMS setiap tiga bulan sekali. "Sebab IMS merupakan pintu masuk bagi penularan HIV-AIDS. Kalau IMS tidak ada maka hampir dapat dipastikan aman dari HIV-AIDS," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau