Permadi: Mending Punya Presiden Orang Kaya

Kompas.com - 27/05/2009, 15:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Tim Sukses Megawati-Prabowo, Permadi, kembali menangkis pernyataan yang mempertanyakan jumlah kekayaan Prabowo yang cukup spektakuler.

Kekayaan Prabowo ini mulai dijadikan materi serangan oleh kubu lawan yang menghubungkannya dengan ekonomi kerakyatan yang diusung pasangan Mega-Pro. Permadi, yang juga anggota Dewan Pembina Partai Gerindra itu, mengatakan, tak ada kaitan antara kekayaan Prabowo dan visinya membangun ekonomi kerakyatan.

"Presiden Amerika itu semuanya berasal dari keluarga orang kaya. Apa salah orang kaya memikirkan orang miskin? Sepertinya hanya orang Indonesia saja yang mempermasalahkannya," kata Permadi pada diskusi "Mengungkap Strategi Tim Sukses Capres" di Gedung DPD, Jakarta, Rabu (27/5).

Tak berhenti sampai di situ, dengan nada tinggi Permadi melanjutkan, "Kalau orang miskin jadi menteri atau presiden pasti akan korupsi. Mending punya presiden yang kaya tapi berpikir untuk orang miskin. Daripada punya presiden miskin yang berpikir untuk dirinya sendiri," kata mantan politisi PDI Perjuangan ini.

Pernyataan Permadi itu menjawab pertanyaan moderator mengenai kontroversi kekayaan Prabowo yang mencapai Rp 1,6 triliun. Harta Prabowo menjadi fenomenal setelah diketahui ia juga memiliki 98 ekor kuda yang bernilai miliaran rupiah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau