Konsep Sisminbakum Lahir dari Orang Imigrasi

Kompas.com - 28/05/2009, 14:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Konsep sistem administrasi badan hukum (sisminbakum) lahir dari gagasan seorang pegawai Direktorat Jenderal Keimigrasian John Saroja Saleh. John yang telah berusia 79 tahun itu mengonsep sisminbakum atas permintaan mantan Direktur Jenderal Hukum dan Perundang-undangan Romli Atmasasmita.

Hal tersebut terungkap saat majelis hakim menanyakan tentang keahliannya. Menurut majelis hakim, John tidak memiliki kompetensi mengonsep sisminbakum karena bukan ahli dalam bidang tersebut. Dalam keterangannya di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (28/5), John mengatakan, dirinya hanyalah seorang Kepala Kanwil Keimigrasian. Dia diminta Romli untuk mengonsep tentang sisminbakum.

"Lalu, mengapa Anda yang diminta?" tanya anggota majelis hakim sidang kasus dugaan korupsi sisminbakum dengan terdakwa mantan Dirjen Administrasi Hukum Umum Syamsuddin Manan Sinaga, Artha Theresia, kepada John.

"Saya tidak bisa menjawab Yang Mulia. Saya hanya diminta tolong," kata John.

"Lalu, apa keahlian saksi?" tutur Theresia.

"Saya belajar otodidak soal itu. Keahlian hanya saya peroleh dari Tuhan. Saya hanya belajar dari membaca. Namun, memang habitat saya di Imigrasi," tuturnya.

"Siapa yang duluan mencetuskan sisminbakum?" lanjut hakim wanita itu.

"Saya diminta Pak Romli," kata John.

"Berarti, ide itu berasal dari Saudara Romli yang saat itu menjabat sebagai Dirjen Kumdang dan dikonsep Anda yang berlatar belakang keimigrasian? Hmmm..," ujar Theresia sambil menaikkan sebelah bibir atasnya.

Dalam kasus dugaan korupsi sistem komputerisasi sisminbakum ini, negara dirugikan Rp 415 miliar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau