KOTA GAZA, KOMPAS.com - Gerakan Palestina, Hamas, pada Minggu (31/5), menyatakan sedang mengkaji keikutsertaan kelompok tersebut dalam dialog antar-Palestina, menyusul terbunuhnya dua anggotanya oleh pasukan keamanan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Tepi Barat.
"Kami sekarang mengkaji pembekuan keikut-sertaan kami dalam dialog yang dituan-rumahi Kairo sebagai bagian dari pembunuhan dua mujahid kami di kota Qalwilya di Tepi Barat," kata Salah Al-Bardaweel, juru bicara Hamas, kepada wartawan di Jalur Gaza.
Tiga personel polisi dan seorang warga sipil juga tewas dalam bentrokan bersenjata yang meletus Minggu pagi antara dua anggota Hamas yang bersenjata dan pasukan keamanan. Al-Bardaweel kembali menyatakan bahwa apa yang terjadi adalah "persekongkolan Pemerintah Otonomi (Nasional) Palestina (PNA) dan Israel yang dirancang guna mengakhiri perlawanan dan menggulingkan Hamas", di Tepi Barat Sungai Jordan --yang dikuasai oleh faksi Fatah, pimpinan Abbas.
Sejak Hamas mengusir pasukan pro-Abbas dan merebut kekuasaan di Jalur Gaza pada 2007, kedua pihak tersebut saling menindas pesaing politik mereka, pendukung Hamas di Tepi Barat dan anggota Fatah di Jalur Gaza. Namun, baku-tembak di Qalqilya adalah peristiwa yang paling mematikan.
Ketegangan itu muncul saat semua faksi Palestina mulanya dijadwalkan menandatangani kesepakatan perujukan di ibu kota Mesir, Kairo, pada 7 Juli. Sebelum itu, Mesir akan terus menaja berbagai upaya guna menjembatani jurang pemisah antara Hamas dan Fatah yang belum berhasil menyepakati pemerintah persatuan.