JAKARTA, KOMPAS.com — Saat pendeklarasian dirinya di Sasana Budaya Ganesha, Bandung, 15 Mei, Boediono menyatakan, Indonesia masih dijajah oleh kekuatan dari luar dan dari dalam.
Menurut Kwik Kian Gie, pengamat ekonomi, pernyataan tersebut penuh tanda tanya, Boediono harus menerangkan apa yang ia maksud.
"Siapa penjajah itu? Kekuatan itu menjajah sendiri-sendiri atau bersama-sama. Kalau dia (Boediono) mengeluarkan pernyataan itu, tentu dapat mengenalinya dengan akurat karena ia cukup lama duduk dipuncak kekuasaan," kata dia dalam diskusi "JK-Win Indonesia Adil Sejahtera, Ekonomi Prorakyat vs Ekonomi Proasing" di Jakarta, Kamis (4/6).
Menko Ekuin zaman Mega ini juga mengkritik tindakan Boediono yang juga menyamakan dirinya dengan Bung Karno. Menurutnya, Bung Karno menggugat penjajahan Hindia Belanda karena rasa marah, sedangkan Boediono menyatakan, Indonesia masih dijajah dengan tujuan masyarakat memilihnya.
Kwik juga memaparkan, Boediono pernah menyatakan kepadanya merasa enggan untuk kembali ke pemerintahan, tetapi Boediono menjilat ludahnya sendiri dengan menerima pinangan SBY. "Dia menyatakan, ada arus besar yang memintanya maju sehingga ia tidak dapat menolak. Arus sebesar apa yang memintanya sehingga ia tidak bisa menolak?" tuturnya.
Kwik menerangkan, saat ini Boediono bukanlah orang yang humble lagi. Pasalnya, setelah deklarasi dan musim kampanye dimulai, Boediono telah keliling Indonesia dan menunjukan kehebatannya kepada seluruh rakyat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang