KOMPAS.com - KETIKA menginjak usia 23 tahun pada Senin, 27 April 2009, Dinara Safina mendapat kado yang sangat istimewa. Di hari ulang tahunnya tersebut yang merupakan awal pekan, WTA mengeluarkan daftar terbaru ranking petenis wanita di mana dia resmi menjadi pemain nomor satu dunia. Dia menggeser posisi Serena Williams yang turun satu strip.
Ini adalah penantian panjang Safina yang mulai terjun ke tenis profesional pada tahun 2001. Setelah berjuang selama delapan tahun, wanita kelahiran Moscow dengan tinggi badan 1,85 meter itu berhasil mewujudkan apa yang pastinya menjadi impian setiap pemain di dunia ini.
Namun ada sedikit ganjalan yang membuat posisinya sebagai pemain nomor satu itu terasa belum sempurna. Pasalnya, sepanjang karier Safina belum pernah meraih gelar di grand slam, yang merupakan turnamen paling bergengsi untuk para pemain tenis.
Dari empat grand slam yang ada, yakni Australia Terbuka, Perancis Terbuka, Wimbledon dan Amerika Serikat Terbuka, prestasi terbaik Safina sampai dengan ketika dinobatkan sebagai pemain nomor satu adalah runner-up. Tahun lalu dia berhasil menembus final Perancis Terbuka tapi kalah dari pemain Serbia Ana Ivanovic, dan awal 2009 dia gagal lagi di final Australia Terbuka.
Tapi karena prestasi Serena Williams usai menjadi juara Australia Terbuka menurun, sementara dirinya terus menunjukkan grafik peningkatan di setiap turnamen yang diikuti, Safina akhirnya bisa jadi nomor satu. Ini yang membuat Williams sempat melontarkan kata-kata yang tak sedap tentang raihan Safina tersebut.
"Meskipun ranking di bawah, saya tetap merupakan yang terbaik di dunia karena sudah 10 kali jadi juara grand slam," ungkap petenis Amerika Serikat itu.
Mendengar itu, Safina merasa tertantang untuk membuktikan bahwa dirinya layak berada di peringkat teratas WTA. Dengan rendah hati, adik kandung Marat Safin tersebut mengakui bahwa Williams adalah petenis hebat karena telah mengoleksi banyak gelar di lemari grand slam-nya.
"Tapi saya akan membuktikan bahwa suatu saat nanti bisa mendapatkan gelar itu (grand slam,red). Williams bisa jadi nomor satu dan meraih trofi grand slam karena dia sudah lebih berpengalaman dari saya. Tapi semua yang saya dapat itu adalah berkat kerja keras, bukan hadiah yang datang dari langit," timpal Safina.
Dan, pemain Rusia ini telah meretas jalan untuk menjawab sekaligus membungkam mulut Williams ketika tampil di grand slam Perancis Terbuka 2009. Dia dengan mulus melaju ke final karena nyaris selalu menang straigh set atas semua lawannya--kecuali di perempat final melawan Victoria Azarenka di mana dia sempat kalah 1-6 di set pertama sebelum bangkit dan menang 6-4 6-2 di dua set selanjutnya.
Di semifinal, Safina kembali menunjukkan kualitasnya sebagai pemain top setelah menaklukkan Dominika Cibulkova dengan straight set 6-3 6-3, sekaligus meraih tiket ke final. Harapan untuk merengkuh gelar pertama di grand slam pun terpatri di dalam dirinya, apalagi di partai puncak dia akan bertemu Svetlana Kuznetsova yang merupakan rekan senegara.
Ya, rekor pertemuan berpihak kepada Safina karena dari 12 pertarungan, dia menang 7 kali dan 5 kali dimenangkan oleh Kuznetsova. Pertemuan terakhir terjadi di final Italia Terbuka pada awal Mei, di mana Safina menang--ini juga menjadi partai balas dendam karena di final Stuttgart pada akhir April, Kuznetsova yang menang.
Namun penampilan Safina pada partai final di Roland Garros, Sabtu (6/6), tak sesuai harapan. Dia bermain buruk sehingga kalah dari Kuznetsova yang merupakan unggulan ketujuh. Safina pun masih harus menyandang status: pemain nomor satu tanpa gelar grand slam.
Memang, di partai puncak Kuznetsova bermain penuh percaya diri sehingga juara Amerika Serikat Terbuka 2004 ini menang mudah. Dia hanya perlu bermain dua set selama 74 menit untuk menjadi juara setelah menang 6-4 6-2.
"Hari ini, ketika saya masuk lapangan, saya sadar bahwa semuanya akan baik-baik saja. Saya tetap tenang. Saat ini, dia (Safina) memang lebih baik dari saya karena dia adalah pemain nomor satu dunia. Tapi dia terlalu tertekan sehingga gagal lagi," ungkap Kuznetsova usai pertandingan.
Benar apa yang dikatakan Kuznetsova. Performa Safina tidak seperti ketika melewati babak-babak awal hingga final, karena justru di partai puncak dia tampak panik. Ketenangan dan kedewasaan yang diperlihatkan sejak turnamen ini dimulai pada 24 Mei lalu seperti hilang tak berbekas. Yang ada hanyalah emosi sehingga dia kerab melakukan kesalahan sendiri, termasuk double faults di game terakhir untuk memastikan Kuznetsova menjadi juara.
Apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Kegagalan tentu saja menyesakkan dan patut disesali, tetapi Safina tak boleh berkubang dalam kekecewaan yang mendalam. Dia harus kembali menata emosi dan performanya untuk menghadapi grand slam selanjutnya, yakni Wimbledon (23 Juni - 5 Juli), juga termasuk Perancis Terbuka pada tahun mendatang.
"Saya berada dalam situasi yang sama seperti tahun lalu (kalah dari Ivanovic di final). Tetapi saya berharap, suatu hari nanti saya bisa datang dan menang di sini," ungkap Safina di depan 15.000 penonton yang menyaksikan partai final Perancis Terbuka 2009 ini.
Semoga Dina!
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang