JAKARTA, KOMPAS.com — Survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan, tingkat keterpilihan (elektabilitas) responden terhadap pasangan capres dan cawapres SBY-Boediono mencapai 63,1 persen. Sementara itu, pasangan Megawati-Prabowo hanya sebesar 16,4 persen dan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto sebesar 5,9 persen.
Dalam survei yang dilakukan kepada 4.000 responden di 33 provinsi ini, dukungan terbesar kepada pasangan SBY-Boediono mengerucut di tujuh provinsi, yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan, dengan keunggulan di atas 55 persen.
Kecuali di Sulsel, meski tetap unggul, keunggulannya hanya sebesar 42,1 persen. Elektibilitas SBY-Boediono di provinsi asal capres Jusuf Kalla ini tersaingi dengan elektabilitas pasangan JK-Win, yaitu sebesar 40,3 persen.
Elektabilitas SBY-Boediono juga mendapat perlawanan berarti dari pasangan JK-Wiranto di tengah-tengah masyarakat suku Bugis. Jika SBY-Boediono memperoleh 47,2 persen, pasangan JK-Wiranto memperoleh 38,5 persen. Sementara itu, Mega-Prabowo (24,3 persen) memberi perlawanan bagi pasangan SBY-Boediono (57,8 persen) di kategori masyarakat suku Melayu.
Belajar dari pengalaman Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang sempat diberondong kritik karena tidak terbuka soal pendanaannya, di awal rilis, Lingkaran Survei menyatakan bahwa survei dibiayai sendiri oleh lembaga ini. "Tidak ada kaitannya antara dana survei ini dengan pasangan yang akan bertarung nanti," tutur Direktur Riset LSI Arman Salam dalam keterangan pers di Pisa Cafe Mahakam Jakarta, Kamis (11/6).
Arman memang mengakui bahwa pasangan SBY-Boediono memesan riset khusus kepada lembaganya dan sudah dikerjakan. Riset tersebut tidak dipublikasikan dan telah diserahkan ke pihak tim sukses. "Ada survei yang dipesan oleh pasangan, itu khusus dan tidak kita publikasi. Tapi sebagai lembaga yang memperhatikan public interest maka kami juga melakukan survei kepada publik dengan dana sendiri," tutur Arman.
Namun, Arman mengakui bahwa survei yang dilakukan untuk pasangan SBY-Boediono dilakukan di tujuh provinsi yang sama dengan tujuh provinsi di mana elektabilitas pasangan ini mengerucut dalam survei publik yang mereka lakukan.
Hanya saja, respondennya berbeda, ungkap Arman. "Kalau di survei internal mereka, respondennya cuma 3.000 orang, di survei ini 4.000 orang," tandas Arman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang