KUALA LUMPUR, KOMPAS.com — Siti Hajar, pembantu rumah tangga korban penyiksaan oleh majikannya, Hau Yuan Tyng, menangis haru ketika berbicara langsung dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui telepon seluler milik Dubes Da’i Bachtiar di Rumah Sakit Universitas Malaya, Kamis (11/6).
"Saya mengucapkan terima kasih atas perhatian bapak Presiden menelepon saya langsung. Saya merasa senang karena begitu banyak pejabat pemerintah yang menemui saya di rumah sakit," kata Siti Hajar, sambil terisak-isak.
Siti Hajar berbicara dengan Presiden Yudhoyono disaksikan Dubes RI Da’i Bachtiar dan Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat di rumah sakit.
Seusai memberikan keterangan pers, Kepala BNP2TKI dan Dubes RI langsung ke rumah sakit dengan rombongan wartawan karena Presiden Yudhoyono ingin bicara langsung dengan Siti Hajar. Sebelumnya di ujung acara jumpa pers yang digelar di Kantor KBRI Kuala Lumpur, Presiden menghubungi langsung Dubes Da’i Bachtiar, dan tak lama kemudian menghubungi Jumhur Hidayat.
Seusai jumpa pers itu, semua wartawan diminta ikut dengan Dubes dan Kepala BNP2TKI berangkat ke Rumah Sakit Universitas Malaya karena Presiden Yudhoyono akan berbicara langsung dengan Siti Hajar. Kepedulian Presiden Yudhoyono terhadap PRT yang menerima siksaan majikan di luar negeri ditunjukkan juga ketika tahun lalu menemui Nirmala Bonat di sela-sela kunjungannya ke Kuala Lumpur.
Siti Hajar mengalami luka parah akibat siksaan majikannya. Selain disiksa, pembantu asal Garut itu juga tidak menerima gaji selama 34 bulan. Namun, kemarin, salah seorang keluarga majikannya datang ke KBRI di Kuala Lumpur memberikan gajinya selama 34 bulan sebesar 17.000 ringgit. Walau gaji sudah dibayar, KBRI tetap akan membawa kasus ini ke pengadilan, bahkan telah menunjuk seorang pengacara Malaysia untuk mengawasi dan mengikuti proses hukumnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang