Wisata di Lereng Slamet Kembali Normal

Kompas.com - 11/06/2009, 20:32 WIB

BANYUMAS, KOMPAS.com - Mulai redanya letusan Gunung Slamet membuat kegiatan kepariwisataan di kawasan Baturraden mulai kembali normal. Pengunjung tak lagi terlalu mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya letusan di gunung tersebut.

Jumlah pengunjung yang sempat menurun 30 persen saat pemberitaan letusan Gunung Slamet gencar, kini kembali seperti semula. Pedagang-pedagang yang menjajakan dagangannya di sekitar kawasan wanawisata kembali mendapatkan rezeki seperti sebelum Gunung Slamet meletus.

"Sudah seminggu ini lumayan lagi jualannya. Gerbang wanawisata sudah banyak orang yang datang. Mungkin karena pemberitaan di televisi dan koran sudah tak seperti dulu, jadi orang sudah tak khawatir lagi datang ke Baturraden," ungkap Agus Sunarto (33), pedagang cinderamata di kompleks Wanawisata Baturraden, Kamis (11/6).

Pada saat Gunung Slamet gencar diberitakan meletus, omzet penjualan cinderamata Agus turun sampai 60 persen. Pasalnya, orang-orang dari lua r daerah yang kerap memadati wanawisata berkurang. Padahal, wisatawan dari luar daerah semacam ini yang banyak membelanjakan uangnya untuk membeli cinderamata.

Kalau wisatawan dekat-dekat sini, paling Cuma lihat-lihat tempat wisata dan jarang belanja. Beda dengan wisatawan dari luar daerah. "Tapi sekarang mereka banyak yang mulai datang lagi," tutur Agus.

Bagi warga Baturraden dan Banyumas, letusan Gunung Slamet sejak akhir April lalu bukan sesuatu yang luar biasa. Kepulan asap tebal dan semburan lava dari kawah Slamet selalu terjadi setiap tahun di bulan-bulan tertentu.

Namun, lanjut Agus, hal itu menjadi sesuatu yang menakutkan bagi warga luar daerah. Apalagi, pemberitaan di media seolah menggambarkan letusan Gunung Slamet snagat mengancam daerah di sekitarnya.

Ketua Paguyuban Pramuwisata Baturraden, Tekad Santoso, mengatakan, secara umum kunjungan wisatawan dalam negeri sudah kembali pulih. Sebelumnya, banyak instansi yang hendak mengadakan acara di Baturraden membatalkan agendanya karena khawatir. N amun, sejak dua minggu terakhir aktivitas instansi, seperti rapat dan outbound, kembali seperti biasa.

Untuk wisatawan asing, malah tak pernah terpengaruh. Karena mereka justru tertarik dan penasaran ingin melihat dari dekat fenomena letusan Gunung Slamet. "Rata-rata jumlah wisatawan asing ke Baturraden memang tak banyak, kurang dari 1.000 orang, tapi stabil. Umumnya mereka dari Belanda," tandas dia.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau