Buta Aksara Ancam Kelangsungan Demokrasi

Kompas.com - 15/06/2009, 10:46 WIB

MAKASSAR, KOMPAS.com - Buta aksara yang masih menjadi persoalan mendasar bidang pendidikan berpotensi mengancam kelangsungan demokrasi di Tanah Air.

Persoalan buta aksara, bila tidak diretas dengan serius, akan menghambat tumbuhnya kesadaran wawasan Nusantara dan semangat pluralisme. Demikian terungkap dalam 'Gebyar Pendidikan Nonformal dan Informal' yang melibatkan lintas departemen di kawasan komunitas masyarakat terpencil, Desa Bulo-bulo, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, Minggu (14/6). Acara itu menampilkan Inspektur Jenderal Depdiknas M. Sofyan dan Direktur Pendidikan Masyarakat Depdiknas Ella Yulaelawati.

”Buta aksara melahirkan banyak kebutaan lain mencakup aspek sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Warga buta aksara akan sulit berdaya dalam kehidupan ekonomi serta tak mudah menerima informasi akan nilai- nilai demokrasi dan kemajemukan. Padahal, dunia telanjur mengenal Indonesia sebagai negara demokratis,” ujar Ella.

Ella mengingatkan, kesadaran beraksara tak hanya perlu bagi anak usia produktif 15 - 44 tahun. Bagi warga negara di atas usia itu pun, keberaksaraan fungsional tetap diperlukan agar mereka tak kembali buta huruf.

”Sebagai warga negara yang menentukan keputusan di tengah keluarga dan komunitas, pada usia seperti itu, esensi pendidikan sepanjang hayat tetap diperlukan untuk pencerahan,” papar Ella.

Sofyan menekankan perlunya percepatan pemberantasan buta aksara melibatkan sinergi lintas sektoral, termasuk pemerintah pusat, provinsi, dan Kabupaten/Kota.

”Menjangkau warga tak terlayani pendidikan formal adalah tantangan, termasuk masyarakat terpencil,” ujar Sofyan.

Kepala Subdit Kemitraan Pendidikan Masyarakat Depdiknas Pahala Simanjuntak menuturkan, tahun 2009 terdapat tujuh kawasan komunitas terpencil yang menjadi simpul penuntasan buta aksara. Sebanyak dua juta penduduk buta aksara mayoritas berdiam di Kabupaten Sigi (Sulteng), Garut (Jabar), Sekadau (Kalbar), Barru (Sulsel), Lombok Barat (NTB), Pamekasan (Jatim), dan Enggano (Bengkulu).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau