NEW YORK, KOMPAS.com — Pemerintah AS mengambil tindakan yang tidak biasa dengan meminta Twitter menunda rencana penghentian operasi agar jejaring sosial maya itu tetap menjadi alat komunikasi rakyat Iran, menyusul pemilihan umum ricuh di negeri itu.
Langkah ini kelihatan bertolak belakang dengan pernyataan Presiden Barack Obama yang kelihatan tidak ingin mencampuri urusan dalam negeri Iran.
Jaringan itu menghentikan operasi sementara, Selasa (16/6) pukul 17.00 (Rabu, pukul 04.00 WIB) untuk pemeliharaan. Pemerintah AS menyatakan, Twitter telah diminta menunda penghentian operasi, Senin, karena layanan blog tersebut dimanfaatkan sebagai "sarana penting komunikasi" di Iran.
Pejabat itu mengatakan kepada wartawan bahwa Twitter menjadi lebih penting karena Pemerintah Iran telah menutup jaringan komunikasi lain seperti telepon genggam dan surat kabar. "Satu daerah tempat orang dapat menjangkau dunia luar melalui Twitter. Mereka mengumumkan akan mematikan sistem untuk pemeliharaan dan kami meminta mereka agar tidak melakukan itu," kata pejabat tersebut.
Pejabat AS ini mengaku tidak mengetahui siapa di Departemen Luar Negeri AS yang menghubungi Twitter, tetapi jelas itu bukan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton.
Pendiri Twitter, Jack Dorsey, yang berbicara pada konferensi dua hari di New York mengenai layanan blog tersebut, tak menyebut-nyebut permintaan Departemen Luar Negeri AS tetapi mengatakan, "Twitter menunda sebagian besar penghentian operasi yang dijadwalkan sehingga kami takkan mengganggu apa yang terjadi saat ini di Iran."
Dorsey menggambarkan, penggunaan Twitter oleh rakyat Iran sangat menakjubkan. "Coba saja pikirkan mengenai apa yang terjadi di sana dan akses yang kita semua miliki untuk menyaksikan ini terurai pada saatnya. Menakjubkan. Luar biasa," katanya.
"Tiba-tiba semua yang sedang terjadi di sana terasa sangat dekat. Itu terasa dapat didekati. Dan itu sungguh penting dan itu benar-benar keberhasilan terbesar Twitter," katanya. "Jika Twitter pernah mempunyai pengaruh, itu adalah akhir pekan belakangan ini di Iran," kata Jeff Pulver, penyelenggara 140 Character Conference.
Pemrotes di Iran pada Senin memanfaatkan Twitter dalam perjuangan menyampaikan keluhan dan menyebarkan pernyataan mengenai bentrokan dengan polisi dan pendukung Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Pesan yang disiarkan di layanan blog tersebut, sebagian memiliki kaitan dengan foto, mengalir dari Iran kendati ada upaya dari pemerintah di sana untuk menghalangi keluarnya berita seputar demo atas kemenangan Ahmadinejad.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang