Hilangnya Mur Suramadu Tak Pengaruhi Kekuatan Konstruksi

Kompas.com - 18/06/2009, 19:58 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Hilangnya mur pagar pembatas antara jalan sepeda motor dan kendaraan roda empat di bentang tengah Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) tidak memengaruhi kekuatan konstruksi jembatan yang dibuka sejak 10 Juni lalu itu.

"Mur yang hilang itu terdapat pada pagar yang berfungsi sebagai pembatas keamanan pengendara. Sehingga secara umum tidak mengganggu konstruksi jembatan," kata Kepala Satuan Kerja Bentang Tengah Jembatan Suramadu, Atiyanto Busono, di Surabaya, Kamis (18/6).

Ia menjelaskan, akibat hilangnya 13 buah mur tersebut sebagian pagar pembatas goyang karena sistem pengunciannya terganggu.

"Agar hal itu tidak terulang, pelaksana proyek akan mengelas mur yang menempel pada baut agar lebih rapat dan tidak hilang lagi," katanya. Pengelasan itu merupakan bentuk kegiatan pemeliharaan jembatan dan bukan berarti pelaksanaan konstruksi proyek belum selesai.

Ia menduga, mur tersebut hilang akibat ulah orang-orang iseng. Hilangnya mur tersebut terjadi saat jembatan dioperasikan secara gratis.

"Saat itu masyarakat banyak yang ingin mengetahui jembatan secara langsung dan mereka berhenti di bentang tengah untuk berfoto atau melakukan kegiatan lainnya," katanya seraya menambahkan, pengelasan tersebut berlangsung selama sepekan.

Selama setahun, Jembatan Suramadu masih dalam masa pemeliharaan oleh pihak kontraktor. Sehingga jika terdapat kejadian serupa, maka kontraktor yang akan langsung melakukan penanganan.

Mengenai hilangnya 42 lampu, Atiyanto mengatakan bahwa lampu yang hilang tersebut bukan lampu penerangan jalan umum. "Lampu tersebut adalah lampu penerangan pada box girder yang hanya dinyalakan saat petugas melakukan inspeksi pemeliharaan," katanya.

Sama dengan mur, lampu tersebut hilang pada saat jembatan dioperasikan secara gratis. Petugas lupa mengunci pintu masuk box girder. Meskipun harga lampu tersebut tidak mahal, pengamanan pintu box girder kini diperketat. Pengamanan juga dilakukan oleh petugas PT Jasa Marga selaku operator Jembatan Suramadu dan petugas kepolisian di sekitar jembatan.

Ia mengimbau masyarakat tidak mencorat-coret lapisan kabel baja jembatan yang berfungsi sebagai pengaman dari karat dan pengeroposan.

"Apabila lapisan luar kabel tersebut mengelupas, maka lapisan dalam kabel akan mudah mengeropos dan memengaruhi kekuatan kabel penyangga jebatan," katanya.

Sejak tarif tol diberlakukan per 13 Juni 2009, para pengguna jalan sudah tidak diperkenankan lagi berhenti di bentang tengah maupun jalur lainnya di sepanjang jembatan.

Sementara itu, Gubernur Jatim Soekarwo meminta masyarakat Madura dan sekitarnya untuk turut menjaga kelestarian jembatan yang pembangunannya menelan dana Rp 4,5 triliun itu.

"Itu jembatan milik kita. Selain menjadi sumber kehidupan, jembatan itu juga menjadi sumber penghidupan. Makanya semua masyarakat, khususnya warga Madura harus menjaga kelestariannya," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau