Helm Buatan Indonesia Tembus Pasar Eropa

Kompas.com - 21/06/2009, 10:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sepuluh tahun lalu, ketika penjualan sepeda motor di Indonesia terus tumbuh, helm dari negara tetangga, seperti Thailand, Malaysia, Taiwan, China, dan Korea menyerbu Indonesia. Terutama untuk segmen menengah atau seharga Rp 200.000 sampai Rp 500.000.

Di saat penjualan sepeda motor mencapai puncaknya tahun lalu, kondisinya berbalik. Helm segmen atas dengan standar Eropa, yaitu ECE, Snell, dan DOT diminati konsumen Eropa. Hasilnya, menurut Johanes Cokrodiharjo, Direktur Pemasaran PT Danapersadaraya Motor Industry (DMI), yang juga Sekjen Asosiasi Industri Helm Indonesia (AIHI), 5 persen dari 2,5 juta (125.000) helm yang diproduksinya tahun lalu diekspor ke Eropa.   

 “Ekspor kami baru ke Eropa. Produksi kami sudah mencapai standar DOT, Snell, dan ECE,” ujar Johanes di sela-sela kesibukannya menjawab pertanyaan wartawan di stan NHK, Jakarta Fair, Kemayoran. Saat itu, DMI mengundang wartawan untuk menginformasikan helm terbarunya, NHK GP Tech.

Banyak Merek. Sebagai produsen helm terbesar di Indonesia saat ini, DMI ternyata punya beberapa merek. Selain NHK, ada GM, MAZ, VOG, MIX, dan REX. Semua produk itu sudah dikenal banyak oleh konsumen Indonesia.

Semua merek tersebut dijual dengan berbagai model dan corak grafis. Rentang harganya sangat besar, mulai dari yang paling murah, Rp 100.000, sampai mahal, Rp 1,8 juta. 

Varian helm NHK yang diperkenalkan antara lain GP Tech-Prodigy dan NHK 1200-RPM Series. Menurut DMI, helm ini menggunakan teknologi Jepang. “Kendati dibuat di sini, 20 persen dari material masih kita impor dari Jepang,“ ungkap Johanes Cokrodiharjo, Direktur Pemasaran DMI.

Keunggulannya, selain harga yang sangat terjangkau, adalah kualitas, penampilan desain, dan corak grafis, plus kenyamanan saat digunakan. “NHK yang kita pasarkan ini sudah memenuhi standar DOT dan Snell. Karena itu, tingkat keamanan dan kenyamanan lebih baik. Bahan dasarnya masih impor, bobotnya lebih ringan,” tambah Johanes. Sebagai contoh, untuk NHK full face GP Tech, berat sekitar 1,5 kg.

NHK GP Tech ditawarkan dengan tiga kualitas berbeda. Versi yang dibuat dari polycarbonate, Rp 350.000-an, fiber composite yang diperkuat kevlar Rp 1 juta, sedangkan dari kevlar Rp 1,8 juta.

Khusus Indonesia. Ditambahkan, desain bagian dalam helm NHK yang baru diluncurkannya didasarkan pada bentuk tipikal dan ukuran kepala umumnya orang Indonesia. Di samping itu, masalah ventilasi juga diperhitungkan dengan cermat. Caranya dengan membuat saluran udara dari depan dan samping atas yang bisa dibuka dan ditutup dengan mudah.

“Hasilnya, helm produksi kami tidak sekadar mantap di kepala orang Indonesia, tetapi juga aman dan nyaman. Inilah yang membuat NHK bisa menyamai kualitas helm racing impor,” bebernya.

Dengan begitu banyak varian dan merek yang dipajang di stannya, Johanes berharap konsumen puas. “Konsumen bisa memilih dengan leluasa, baik berdasarkan harga, warna, bentuk, maupun corak grafis, dan sebagainya,” tambah Johanes tentang begitu banyak produk yang dipajangnya.

Arena Jakarta Fair benar-benar dimanfaatkan pengusaha muda ini. Promosi gencar pun dilakukan dengan menawarkan berbagai bonus kepada konsumen yang membeli helmnya. Sayangnya, pada produk yang baru diluncurkannya, yaitu NHK GP Tech, pada kemasan dan stiker di helm masih tercantum “Made in Japan”. Masih belum pede dengan “Made in Indonesia”, ya?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau