Greenpeace: Stop PLTN, Tingkatkan Energi Terbarukan

Kompas.com - 21/06/2009, 23:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Tenaga nuklir yang kerap dipakai sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) disalahpersepsikan sebagai solusi untuk perubahan iklim. Padahal ada energi terbarukan yang sangat aman dan bersih seperti sinar matahari, panas bumi, angin dan mikrohidro. Dan Indonesia baru memanfaatkan energi terbarukan ini kurang dari 5 persen.

"Lalu kenapa masih berupaya mendirikan PLTN," kata Tessa de Ryck, Juru Kampanye Nuklir Greenpeace Regional Asia Tenggara saat peluncuran Komik Nuclear Meltdown Pesan dari Kegelapan di Jakarta, Minggu (21/6).

Menurut de Ryck, satu PLTN menghasilkan limbah nuklir dengan kadar radioaktif tinggi 20 hingga 30 ton per tahun. Parahnya, sampai sekarang tidak ada cara aman untuk menyimpan limbah nuklir, sehingga limbah nuklir bertumpuk. Di seluruh dunia diperkirakan ada 250.000 ton limbah nuklir.

Lebih lanjut ia mengatakan, kalau radiasi nuklir bocor dari PLTN maka akan meradiasi sel-sel tubuh sehingga mengakibatkan kanker kelenjar, kelainan saat bayi dilahirkan, kemandulan, leukimia, mutasi gen, kardiovaskular. Pada dasarnya, ia menambahkan, tidak ada reaktor nuklir yang benar-benar aman. Semua reaktor operasional memiliki kelemahan pada sistem keselamatan dasar yang tidak dapat dihilangkan begitu saja meskipun dengan meningkatkan tingkat keamanan.

Selain itu, de Ryck memaparkan deretan kelemahan PLTN. Menurutnya sampai saat ini tidak ada solusi untuk limbah nuklir, membangun PLTN mahal mencapai 5 miliar dollar AS, jika terjadi kecelakaan akibatnya fatal, teknologi nuklir terlalu kompleks dan hanya dikuasai beberapa negara (AS, Rusia, Perancis, Jepang, Korsel dan Kanada), cadangan uranium sebagai bahan PLTN hanya terdapat di negara tertentu (Kanada, Australia, Nigeria, Kazakstan, Usbekistan), dan nuklir tidak bisa membantu perubahan iklim.

"Oleh karena itu lebih baik menggunakan sumber energi terbarukan yang aman, bersih dan jauh lebih murah. Dan yang terpenting, sumbernya ada banyak di Indonesia," ungkapnya. Namun demikian, de Ryck tidak memungkiri pemerintah melalui Badan Tenaga Atom Indonesia (BATAN) terus bergiat dengan risetnya di 3 reaktor riset nuklir.

"Mengatakan sudah berhasil meriset pada reaktor riset lalu berhasil pula pada saat PLTN dibangun, sama saja mengatakan saya bisa menjahit luka maka saya bisa mengoperasi jantung, sekalipun reaktor risetnya sebesar di Serpong," papar de Ryck, saat mengomentari para peneliti BATAN yang terus bekerja mempersiapkan PLTN.

Melihat terlalu berbahayanya PLTN dan ada begitu banyak sumber energi terbarukan yang dimiliki Indonesia, Greenpeace mendesak pemerintah Indonesia untuk meningkatkan target energi terbarukan sekaligus meningkatkan kualitas hukum dan peraturan yang selama ini menjadi batu sandungan terbesar dalam investasi di bidang energi terbarukan.

"Meningkatkan investasi bahan bakar fosil dan nuklir untuk dialihkan pada panas bumi, angin, dan matahari tidak hanya merupakan pilihan pintar untuk mengurangi emisi, tetapi juga pilihan ekonomi yang pintar," pungkas de Ryck.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau