TEHERAN,KOMPAS.com-Polisi anti huru-hara yang bersenjatakan pentungan baja menembakkan gas air mata guna membubarkan demonstrasi terbaru di ibukota Iran, Teheran, Senin (22/6) waktu setempat.
Demonstrasi ini tetap berlangsung setelah pengunjukrasa mengabaikan ancaman Garda Revolusi yang akan menindak aksi protes menentang hasil pemilihan presiden.
Pemerintah Barat mulai mendesak warga negara mereka agar menghindari perjalanan ke Iran, sementara Uni Eropa (UE) membantah tuduhan mengenai campur tangan di Iran. Inggris juga menyatakan akan menarik keluarga staf kedutaan besarnya.
Banyak mahasiswa memperingatkan peristiwa itu dapat menjadi pengulangan pengepungan Kedutaan Besar AS 1979.
Di Teheran, polisi yang didukung oleh anggota milisi Islam Basij menangkap sebanyak 60 orang sementara sebanyak 1.000 demonstran berkumpul di lapangan Haft-e-Tir, tempat belanja kenamaan di jantung kota Teheran.
Seorang saksi mata mengatakan polisi yang memakai helm dan memegang tongkat baja serta kabel, sebagian mengendarai sepeda motor, melepaskan sedikitnya tujuh tembakan gas air mata guna membubarkan pemrotes sewaktu mereka berkumpul sambil berteriak, "Allahu Akbar (Allah Maha Besar)."
Reaksi cepat itu dilancarkan setelah Garda Revolusi --pasukan elit yang didirikan setelah Revolusi 1979-- mengancam akan melancarkan tindakan "keras dan revolusioner" terhadap kerusuhan lebih lanjut saat pemerintah menghadapi krisis terburuk dalam tiga dasawarsa.
Calon yang kalah dari kubu pembaruan Mehdi Karroubi menyerukan penyelenggaraan upacara berkabung pada Kamis buat pemrotes yang tewas dalam demonstrasi, Minggu.
Radio resmi menyatakan sedikitnya 457 orang telah ditahan dalam bentrokan di jalan di Teheran, Sabtu, yang menewaskan 10 orang, sehingga jumlah korban secara keseluruhan akibat kerusuhan satu pekan naik jadi sedikitnya 17.
Pemimpin oposisi Mir Hossein Mousavi, yang telah memimpin gelombang besar protes mengenai apa yang dikatakannya sebagai kecurangan pemilihan umum yang mengembalikan Mahmoud Ahamadinejad ke tampuk kekuasaan, mendesak pendukungnya agar melanjutkan demonstrasi tapi menyerukan "penahanan diri" guna menghindari pertumpahan darah lebih lanjut.
Pengawas pemilihan umum, Dewan Garda, mengakui adanya beberapa ketidakcocokan dalam pemungutan suara 12 Juni tapi berkeras semua itu takkan mempengaruhi hasilnya, sementara oposisi berkeras menuntut bukan penghitungan-ulang tapi pemungutan suara baru.
Sejak kerusuhan terjadi, pasukan keamanan Iran telah menindak demonstran dan beberapa ratus pemrotes serta pengulas, wartawan serta tokoh kenamaan pembaruan telah ditangkap.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang