Demonstran Abaikan Ancaman Garda Revolusi

Kompas.com - 23/06/2009, 09:24 WIB

TEHERAN,KOMPAS.com-Polisi anti huru-hara yang bersenjatakan pentungan baja menembakkan gas air mata guna membubarkan demonstrasi terbaru di ibukota Iran, Teheran, Senin (22/6) waktu setempat.

Demonstrasi ini tetap berlangsung setelah pengunjukrasa mengabaikan ancaman Garda Revolusi yang akan menindak aksi protes menentang hasil pemilihan presiden.

Pemerintah Barat mulai mendesak warga negara mereka agar menghindari perjalanan ke Iran, sementara Uni Eropa (UE) membantah tuduhan mengenai campur tangan di Iran. Inggris juga menyatakan akan menarik keluarga staf kedutaan besarnya.

Banyak mahasiswa memperingatkan peristiwa itu dapat menjadi pengulangan pengepungan Kedutaan Besar AS 1979.

Di Teheran, polisi yang didukung oleh anggota milisi Islam Basij menangkap sebanyak 60 orang sementara sebanyak 1.000 demonstran berkumpul di lapangan Haft-e-Tir, tempat belanja kenamaan di jantung kota Teheran.

Seorang saksi mata mengatakan polisi yang memakai helm dan memegang tongkat baja serta kabel, sebagian mengendarai sepeda motor, melepaskan sedikitnya tujuh tembakan gas air mata guna membubarkan pemrotes sewaktu mereka berkumpul sambil berteriak, "Allahu Akbar (Allah Maha Besar)."

Reaksi cepat itu dilancarkan setelah Garda Revolusi --pasukan elit yang didirikan setelah Revolusi 1979-- mengancam akan melancarkan tindakan "keras dan revolusioner" terhadap kerusuhan lebih lanjut saat pemerintah menghadapi krisis terburuk dalam tiga dasawarsa.

Calon yang kalah dari kubu pembaruan Mehdi Karroubi menyerukan penyelenggaraan upacara berkabung pada Kamis buat pemrotes yang tewas dalam demonstrasi, Minggu.

Radio resmi menyatakan sedikitnya 457 orang telah ditahan dalam bentrokan di jalan di Teheran, Sabtu, yang menewaskan 10 orang, sehingga jumlah korban secara keseluruhan akibat kerusuhan satu pekan naik jadi sedikitnya 17.

Pemimpin oposisi Mir Hossein Mousavi, yang telah memimpin gelombang besar protes mengenai apa yang dikatakannya sebagai kecurangan pemilihan umum yang mengembalikan Mahmoud Ahamadinejad ke tampuk kekuasaan, mendesak pendukungnya agar melanjutkan demonstrasi tapi menyerukan "penahanan diri" guna menghindari pertumpahan darah lebih lanjut.

Pengawas pemilihan umum, Dewan Garda, mengakui adanya beberapa ketidakcocokan dalam pemungutan suara 12 Juni tapi berkeras semua itu takkan mempengaruhi hasilnya, sementara oposisi berkeras menuntut bukan penghitungan-ulang tapi pemungutan suara baru.

Sejak kerusuhan terjadi, pasukan keamanan Iran telah menindak demonstran dan beberapa ratus pemrotes serta pengulas, wartawan serta tokoh kenamaan pembaruan telah ditangkap.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau