Sriwijaya Janjikan Bonus Rp1,4 Miliar

Kompas.com - 27/06/2009, 21:18 WIB

PALEMBANG, KOMPAS.com - Manajemen Sriwijaya FC menjanjikan bonus sebanyak 70 persen atau Rp1,4 miliar khusus dari hadiah juara Copa Indonesia 2008-09 senilai Rp2 miliar yang akan diserahkan kepada pemain.

Hal itu dikemukakan asisten manajer Sriwijaya FC, Henry Zainuddin kepada wartawan di Palembang, jelang bertemunya juara bertahan Sriwijaya FC menghadapi Persipura pada Minggu (28/6) pukul 19.00 WIB di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring Palembang.

Ia menegaskan, bonus tentunya sebagai motivasi untuk dapat mempertahankan gelar juara Copa Indonesia. Sriwijaya FC sendiri memiliki keuntungan dengan bermain di kandang sendiri dalam partai final ini.

Sementara itu secara terpisah, pelatih Rahmad Darmawan kecewa tak dapat memainkan bek Isnan Ali. Isnan diskors karena akumulasi kartu kuning saat melawan Persijap Jepara di semifinal, Rabu (25/6) lalu.

"Sebenarnya saya sudah menyimpan beberapa pemain untuk final, seperti Kayamba dan Wijay untuk menjaga agar mereka tidak mendapat kartu kuning," kata Rahmad.

Namun, Rahmad mengaku kecolongan dengan kartu kuning yang didapat Isnan Ali. Tanpa Isnan, Laskar Wong Kito menghadapi kesulitan menahan gempuran Boaz Solossa atau Ernest Jeremiah. Kedua pemain itu telah menyumbangkan banyak gol di ajang Copa Indonesia musim ini.

Partai puncak Copa Indonesia ini memang merupakan Laga "best of the best" saat dua tim elit, Sriwijaya FC Palembang dan Persipura Jayapura yang merupakan pertandingan final ideal.

Peluang seimbang bagi Sriwijaya FC untuk mempertahankan gelar juara atau Persipura yang merebut trofi sekaligus melengkapi gelar ganda setelah memenangi Liga Super. "Big match" makin menarik karena merupakan ulangan final tahun lalu.

Hanya, situasinya kini sudah berbeda karena Sriwijaya FC lebih difavoritkan. Pasalnya, final digelar di kandang Laskar Wong Kito. Ini tentu sudah menjadi modal tersendiri bagi mereka.

Kontras dengan final 2007 saat Persipura begitu diunggulkan. Mereka  tak hanya didukung skuad yang nyaris sempurna, tapi juga begitu perkasa. Tim Mutiara Hitam tak pernah kesulitan menyingkirkan lawan-lawannya, termasuk Persija Jakarta Pusat di semifinal di Gelora Bung Karno, Senayan, yang tak lain merupakan rumah Macan Kemayoran.

Bandingkan dengan Sriwijaya FC yang harus berjibaku di semifinal melawan Pelita Jaya Purwakarta. Bahkan pertandingan harus diselesaikan melalui adu penalti. Ini jelas membuat stamina pasukan Rahmad Darmawan terkuras.

Parahnya, Sriwijaya FC kehilangan bek tangguh Charis Yulianto dan Christian Leng Lolo karena akumulasi kartu kuning. Tanpa Charis, lini pertahanan tim sedikit bermasalah karena harus mengandalkan pemain veteran Renato Eliyas dan Slamet Riyadi yang selama ini lebih sering duduk di bangku cadangan.

Setengah bercanda, Rahmad mengatakan timnya tak pernah komplet dalam perjalanan menuju final dan bahkan saat menjadi juara. Selalu saja mereka kehilangan pemain pilar karena akumulasi kartu atau cedera.

Sementara pelatih Persipura, Jacksen F Tiago mengatakan, Sriwijaya adalah tim yang bagus. Walau demikian, dia tetap yakin timnya bisa mengatasi perlawanan Sriwijaya FC meskipun mereka bermain di hadapan publiknya. "Kuncinya kami tak boleh meremehkan lawan," kata Jacksen.

Persipura memang harus kehilangan striker Alberto "Beto" Goncalves karena sudah mengantungi dua kartu kuning. Namun, bukan berarti Persipura tak memiliki peluang. Mereka tak hanya bermodalkan skuad dengan pemain berteknik tinggi, tapi juga motivasi  membalas dendam sekaligus meraih trofi untuk pertama kalinya. (ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau