Banyumas Menghentikan TKI ke Malaysia

Kompas.com - 29/06/2009, 20:56 WIB

BANYUMAS, KOMPAS - Pemerintah Kabupaten Banyumas menghentikan pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Malaysia. Kebijakan tersebut sebagai tindak lanjut langkah pemerintah pusat untuk menghentikan pengiriman TKI ke Negeri Jiran itu.

Kepala Bidang Penempatan Perluasan Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Banyumas, Teguh Budi, Senin (29/6), mengungkapkan, penghentian tersebut hanya untuk TKI yang akan bekerja di sektor informal seperti pembantu rumah tangga, pekerja bangunan, dan perkebunan. Untuk sektor formal masih diizinkan.

"Intinya kami mengikuti instruksi pemerintah pusat untuk menghentikan dulu pengiriman TKI sambil menunggu hasil nota kesepahaman dengan Pemerintah Malaysia mengenai TKI ini," kata dia.

Dengan langkah tersebut, calon TKI dari Banyumas yang akan ke Malaysia untuk menjadi pekerja informal tak dilayani pengurusan proses perizinannya sementara oleh disnakertrans setempat. Mereka akan diarahkan untuk bekerja di negara lain selain Malaysia seperti Hongkong, Singapura, Taiwan, atau pun Arab Saudi.

Meskipun begitu, hingga Senin kemarin Disnakertras Banyumas belum menerima pemberitahuan resmi dari pemerintah pusat perihal penghentian pengiriman TKI ke Malaysia untuk sektor informal tersebut. Yang sudah diterima baru surat dalam bentuk facsimile tentang pelarangan pemberangkatan TKI di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta.

"Tapi surat itu sendiri juga kurang jelas karena tulisannya kabur," kata Budi.

Terpisah, Pemerintah Purbalingga sampai saat ini belum menghentikan pengiriman TKI ke Malaysia, termasuk pekerja sektor informal. Mereka masih menunggu surat pemberitahuan resmi dari pemerintah pusat mengenail hal tersebut.

"Kami sudah menanyakan hal ini ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan katanya diizinkan dulu sebelum ada surat resmi. Sejauh ini, kami baru tahu pengumumannya di media massa," kata Kepala Disnakertrans Purbalingga Agus Winarno.

Malaysia merupakan negara tujuan yang paling banyak diminati TKI di Banyumas dan Purbalingga. Hingga April lalu, jumlah TKI dari Banyumas yang berangkat ke Malaysia tercatat sebanyak 291 orang, sedangkan tahun 2008 lalu sebanyak 858 orang. Jumlah tersebut hampir sepertiga dari total TKI asal Banyumas yang bekerja di negara asing yang jumlahnya mencapai 2.658 orang, di antaranya ke Arab Saudi, Singapura, Hongkong, dan Taiwan.

Di Purbalingga, jumlah TKI ke Malaysia per tahunnya tak lebih dari 100 orang. Banyaknya sentra usaha kecil di kabupaten tersebut membuat minat bekerja warga Purbalingga ke negara asing tak sebesar warga di kabupaten sekitarnya seperti Banyumas, Cilacap, dan Banjarnegara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau