Michael Jackson Hidup dalam Gemerlap dan Skandal

Kompas.com - 30/06/2009, 02:30 WIB

Michael Jackson adalah pemusik serba bisa dan gerak tari kepala yang khas telah mengantarkannya dari seorang anak ajaib menjadi superstar solo sebelum pelecehan seksual terhadap anak menghancurkan reputasi dan kariernya.

Berita kematian Jackson, yang diwartakan media karena serangan jantung, meledak manakala penyanyi berusia 50 tahun itu berencana mengadakan tur come back ke dunia musik dalam 50 konser yang dijadwalkan dimulai di London pada 13 Juli.

Lima puluh konser itu akan menjadi rangkaian konser pertamanya selama 12 tahun dan diperkirakan oleh promotor AEG Live bakal memberi Jackson keuntungan lebih dari 400 juta dollar AS.

Popularitas Jackson mencapai puncaknya pada 1982 lewat album dan video musiknya yang ikonik, "Thriller". Dia berhasil menjual kira-kira 750 juta kopi rekaman dan memenangi 13 Grammy pada sepanjang kariernya yang berjaya selama empat dekade.

Namun, penyanyi yang terkenal dengan tarian moon walking dan sarung tangan sebelahnya ini terlilit utang.

Keprihatinan atas kondisi kesehatannya semakin terlihat selama satu persidangan hukum di California pada 2005 karena tuduhan pelecehan seksual anak, di mana akhirnya dia bebas dan pada 2008 manakala dia diambil gambarnya di Las Vegas di kursi roda untuk alasan yang tidak pernah dijelaskan.

AEG Live menyatakan, Jackson telah lolos menjalani tes kesehatan yang panjang pada awal 2009 sebelum konser di London diumumkan.

Jackson dihormati sebagai pemusik kulit hitam pertama yang memperoleh perhatian luas menyusul penampilannya di saluran musik MTV.

Video musiknya, seperti "Thriller", yang di antaranya mengenalkan tarian ala zombie, dan lagu "Beat It" telah melangkahi batas-batas seni video musik. Sementara itu, performa panggungnya yang spektakular telah melahirkan jutaan penggemar di seluruh dunia.

Setelah peluncuran "Thriller," majalah Time menggambarkannya sebagai "fenomena solo terpanas sejak Elvis Presley" dan mendaulatnya sebagai bintang rekaman, radio, dan video rock.

Pelecehan seksual

Namun, keyakinan Jackson bahwa "Aku adalah Peter Pan di lubuk hatiku", ungkapan yang ditujukannya kepada anak-anak, persahabatannya dengan seekor simpanse bernama Bubbles, serta suara tinggi dan bedah plastik telah membuatnya dijuluki "Wacko Jacko".

Perubahan perlahan-lahan warna kulitnya menjadi pucat putih—yang disebutnya sebagai akibat dari pigmentasi kulit—kesukaannya mengenakan masker bedah, dan pernah mengayunkan anaknya sendiri dari atas loteng menambah reputasinya sebagai seorang yang eksentrik.

Setelah dua kasus hukum pada 1993 dan 2003 yang semuanya tidak terbukti bersalah karena kasus pelecehan seksual anak laki-laki selama menginap di Neverland Ranch di California, Jackson tidak pernah lagi mengembangkan talenta musiknya yang luar bisa seperti semasa mudanya.

Setelah dibebaskan dari tuduhan pelecehan seksual terhadap anak lelaki berusia 13 tahun pada 2005, Jackson menutup gerbang peristirahatannya di Neverland dan hidup berpindah-pindah di Bahrain, Dubai, Irlandia, dan Las Vegas sambil menghadapi perkara-perkara hukum menyangkut keuangannya.

Berulang kali Jackson menyatakan bahwa dia mencintai anak-anak dan tidak akan pernah menyakiti mereka, tetapi sering kali dia mempertahankan pendapatnya untuk tidur seranjang dengan anak-anak.

"Anak-anak mencintai saya. Saya cinta anak-anak. Mereka ingin seperti saya. Semua orang boleh masuk ke kamar saya. Seorang anak boleh ke kamar saya jika mereka mau," katanya dalam satu wawancara televisi pada 1996.

Superstar dunia

Dilahirkan pada 19 Agustus 1958 di Gary, Indiana, Jackson mulai menyanyi sebagai anggota termuda band Jackson 5, di mana dia pertama kali meneken kontrak rekaman tahun 1968 pada usia 11 tahun.

Lagu-lagu hit seperti "ABC" dan "I'll Be There" membuat band bersaudara ini menjadi grup musik pertama dalam sejarah pop AS yang memancangkan empat lagunya sekaligus dalam tangga lagu paling populer di AS. Tahun 1972 Jackson meluncurkan album solonya yang pertama.

Pada tahun-tahun dini mereka, di bawah gemblengan keras sang ayah, mereka mencapai sukses besar.

Jackson kemudian mengatakan bahwa dia telah membangun rumah di Neverland, lengkap dengan kebun binatang, lintasan mini kereta api, bioskop, dan komidi putar karena dia ingin memiliki tempat yang bisa menciptakan apa pun yang tak pernah didapatnya di masa kecil.

Dia berkolaborasi dengan produser Quincy Jones untuk membuat "Off the Wall" (1979) yang membuat empat single-nya mencapai hit dan kemudian "Thriller", di mana tarian serta corak rock dan popnya menghasilkan tujuh lagu yang bertengger sekaligus di tangga Top Sepuluh lagu terpopuler AS dan bertahan hingga dua tahun.

Pada 2009 album ini mencetak rekor penjualan lebih dari 45 juta kopi di seluruh dunia.

Pada 1985, bersama Lionel Richie, dia menulis single-nya yang didekasikan untuk korban kelaparan di Afrika berjudul "We are the World," yang menjadi salah satu lagu single paling cepat laris pada masanya.

Album-album hit seperti "Bad" dan "Dangerous" mengikuti setelah itu dan Jackson mulai menyebut diri sebagai "Raja Pop" di tengah rumor negatif mengenai kehidupan pribadinya.

Pada 1994, dia memberikan ganti rugi kepada seorang anak yang diduga menjadi korban pelecehan seksual dirinya di California.

Beberapa bulan kemudian, dia mengguncang dunia setelah menikahi anak perempuan satu-satunya Elvis Presley, Lisa Marie Presley, tetapi pasangan ini bercerai pada 1996.

Tahun itu juga, dia menikahi mantan perawat, Debbie Rowe, dan dikaruniai dua anak—Prince Michael Jackson I dan Paris Michael Katherine.

Mereka pisah ranjang pada 1999. Empat tahun kemudian dia dikaruniai satu anak lagi, Prince Michael Jackson II, dari seorang perempuan yang tak diketahui identitasnya.  (ANTARA News/Reuters)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau