Istri Menjadi Aktor Kesuksesan Federer dan Roddick

Kompas.com - 04/07/2009, 23:04 WIB

LONDON, KOMPAS.com - Roger Federer dan Andy Roddick menapaki final Wimbledon 2009. Dua petenis satu generasi yang pernah menjadi pemain nomor satu dunia tersebut lolos, setelah berjuang keras melewati adangan lawan-lawan yang tangguh, dan akan saling beradu kekuatan pada hari Minggu (5/7) ini.

Siapa yang menjadi bagian dari kesuksesan mereka? Baik Federer maupun Roddick mengakui bahwa sang istri yang menjadi aktor utama di balik keberhasilan tersebut.

Benar! Fakta menunjukkan demikian.

Ya, sejak menjalin hubungan dengan Miroslava "Mirka" Vavrinec pada tahun 2002, Federer selalu ditemani oleh wanita tersebut yang juga ditunjuk sebagai manajer. Kemanapun dia bertanding, Mirka yang merupakan mantan petenis Swiss tersebut tampak di bangku penonton.

Inilah salah satu letak kekuatan Federer yang mulai tahun 2003 untuk pertama kalinya merengkuh gelar pertama grand slam, yakni di Wimbledon. Berkat dorongan dari Mirka yang secara resmi telah dinikahi pada 11 April 2009 di Basel, Federer pun tak pernah paceklik gelar grand slam sehingga dia sudah bisa menyamakan rekor Pete Sampras (14 gelar grand slam), bahkan berpeluang melewatinya jika berhasil mengalahkan Roddick di final nanti.

"Dia sangat membantu saya, sebagai seorang pribadi. Saya berkembang lebih cepat, bertumbuh lebih cepat dengannya. Saya patut berterima kasih kepadanya, karena saya menjadi sangat tenang dalam momen-momen penting sepanjang karierku. Dia selalu mendorong. Saya banyak berutang kepadanya," ungkap Federer yang sebentar lagi akan berstatus ayah karena Mirka diperkirakan akan melahirkan pada musim panas nanti.

Pertemuan Federer dan Mirka terjadi di Olimpiade Sydney 2000 ketika mereka sama-sama bermain untuk Swiss. Tetapi Mirka terpaksa pensiun dini dari dunia tenis karena cedera serius pada kakinya.

Dua tahun berselang, mereka mulai menjalin hubungan hingga Mirka kini sedang mengandung. Dan, Federer pun mengakhiri hubungan tanpa status dengan meresmikan Mirka sebagai istri dalam upacara pernikahan di sebuah kapela di Basel.

Roddick pun demikian. Petenis berusia 26 tahun tersebut mengakui bahwa kehadiran Brooklyn Decker yang dinikahi pada 17 April 2009 di Austin, sangat membantu peningkatan kariernya, bahkan membantu perubahan gaya hidupnya.

Terbukti, Roddick yang terakhir kali menembus final Wimbledon pada tahun 2004 dan 2005 kembali mengulangi prestasi serupa. Padahal, kali ini dia harus melewati rintangan yang sulit karena melawan petenis tuan rumah yang merupakan unggulan ketiga, Andy Murray.

Disaksikan oleh Decker yang merupakan seorang model, Roddick yang menjadi unggulan keenam dengan cukup meyakin meraih kemenangan. Dia hanya kehilangan set kedua sebelum menaklukkan petenis andalan publik Inggris itu dengan 6-4 4-6 7-6(7) 7-6(5).

Bandingkan dengan tahun lalu. Roddick yang baru satu kali juara grand slam (Amerika Serikat Terbuka 2003), harus tersingkir di babak kedua karena gagal melewati adangan pemain Serbia Janko Tipsarevic.

"Tahun lalu setelah bermain di sini, saya merasa sangat berat, dua pekan yang sangat sulit," ungkap Roddick.

"Brook dan saya sudah banyak berbicara, jika saya masih berpikir bisa bermain dengan baik, paling kurang saya bisa berada di level tertinggi permainanku. Dan saya pun mulai mempersiapkan diri dan siap mengambil peluang yang ada. Saya bekerja keras dan tetap berkomitmen terhadap segala hal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau