Viva Chavez!

Kompas.com - 06/07/2009, 11:55 WIB

Samuel Mulia

Saya terenyak kagum kepada Hugo Chavez setelah membaca tulisan di Kompas minggu lalu ketika ia mendatangi dan menyalami Pak Obama.

Sejujurnya saya membaca itu karena teman saya pagi-pagi, sebelum saya ke rumah ibadah, sudah me-SMS dengan kalimat yang kira-kira bunyinya seperti ini, ”Baca isi pidato Obama, bagus sekali rendah hati di Kompas Minggu.”

Setelah membaca Chavez mendatangi dan menyalami Pak Obama, saya malah punya pemikiran berbeda dari teman saya itu. Buat saya, ia malah yang paling rendah hati, jauh lebih baik dari hanya sekadar pidato. Saya seperti dikemplang pohon kelapa karena saya juga cuma bisanya berpidato saja.

Di rumah ibadah pun saya dikemplang lewat khotbah pagi itu. Jadi, hari Minggu itu saya terkemplang-kemplang. Selamat tak meninggalkan benjolan. ”Yang bilang siapa enggak ninggalin benjolan? Di muke kagak, di sini ni, nurani, nurani, Neng,” itu suara dari dalam.

Rendah hati

Chavez hebat, sangat memukau. Sekarang saya mengerti, apa yang sesungguhnya disebut dengan a true gentleman. Ia yang berani mendatangi ”musuh”-nya dan menyalaminya, kemudian berkata begini, ”Saya ingin menjadi sahabat Anda.”

Untuk melakukan aksi dan berkata seperti itu, saya kok percaya dibutuhkan kerendahan hati luar biasa. Kerendahan hati yang bisa membungkam kebencian belasan tahun lamanya. Dan, saya belum bisa seperti itu. Jadi, buat saya, bukan Obama yang menjadikan babak baru hubungan AS dengan kawasan itu, tetapi Chavez. Chavez yang pertama memiliki inisiatif dan berniat untuk bersahabat, untuk ”merangkul”, maka Obama kemudian dalam tulisan itu membalas dengan menjawab atas aksi mulia Chavez dengan berkata, ”Terima kasih.”

Seperti yang saya sebutkan di atas, saya jago berpidato, berorasi, tentang kebaikan, tentang ingin bersahabat, tentang memaafkan, tentang memeluk, mengampuni musuh, bisa membuat pidato mengharu biru. Tetapi, itu pidato dan di bibir saja, cuma buat citra saya ini pribadi yang memesona. Saya tahu pasti, itu susah sekali dilaksanakan dalam kehidupan tiap hari. Walk the talk itu, bukan saya. Saya itu talk talk talk, tok. Karena itu paling mudah.

Aksi Pak Chavez yang mengejutkan itu juga menunjukkan keberaniannya mempertontonkan cairnya kebencian dalam dirinya sendiri. Mendatangi dan menyalami adalah perilaku yang bisa dijadikan contoh, sebenci apa pun, manusia itu harus tetap mempertahankan terang yang di dalam hati dan benaknya.

Chavez mungkin tak bermaksud menjadi primadona, bahkan berakting menjadi orang suci. Saya tak tahu apakah itu skenario. Bisa jadi demikian. Kalau toh itu pun skenario, itu skenario yang apik. Sebuah eksekusi public relations yang memikat. Meskipun, bisa jadi akan ada saja suara negatif terhadap kejadian itu. Berbuat baik diomongin, enggak berbuat baik makin diomongin. Namanya juga manusia, bukan?

Memaafkan

Tak semua orang bisa seperti Chavez. Itu tak terjadi pada Ortega dan saya sendiri. Rambut boleh saja sama hitam, tetapi kemampuan dan kemauan memaafkan lain perkara.

Chavez menjadi inspirasi bagi mereka yang sampai sekarang membenci negara adikuasa itu, atau terhadap sesamanya, untuk memulai babak baru. Saya tak tahu apakah Chavez memaafkan Amerika, tetapi saya melihat ia mampu memaafkan dirinya sendiri. Itu yang terpenting. Karena menurut saya, kalau tidak begitu, mungkin ia tak akan memiliki inisiatif mendatangi Obama terlebih dahulu.

Saya punya banyak musuh. Banyak sekali manusia yang membenci saya, bahkan beberapa di antara mereka sampai sekarang tidak memaafkan. Tetapi, saya tak bisa seperti Chavez, saya malu untuk terlebih dahulu membuat inisiatif mendatangi mereka yang membenci saya dan menyalaminya dan mengatakan: ”Saya mau menjadi sahabat Anda.” Karena saya takut pelukan dan ajakan saya itu akan ditolak. Saya tak sejantan Chavez. Di sisi lain, kalau saya membenci orang, kebencian bertahun lamanya itu bisa sampai membutakan sehingga saat orang mau membuka babak baru saya tetap kekeuh dengan kebencian itu.

Kemudian saya mulai berpikir, apa saya bisa seperti Chavez? Bagaimana cara saya memulai berani memaafkan orang yang membenci saya belasan tahun lamanya? Apakah kalau musuh saya tidak mendatangi terlebih dahulu, saya akan berani mendatanginya?

Pertanyaan lain timbul di kepala saya. Bagaimana kalau pidato Obama itu cuma tong kosong nyaring bunyinya? Bagaimana kalau pesona yang ditabur sekarang justru sebagai jerat yang membutakan Chavez? Siapa yang tahu kalau Obama tak akan berubah dan menjadi seperti pendahulunya, sama seperti perubahan pada Chavez sehingga ia membuat kejutan hari itu? Apakah Obama menyapa Ortega karena ia merasa kecolongan oleh Chavez yang melakukan aksi mulia terlebih dahulu sehingga ia juga harus melakukan hal sama juga? Hari Minggu itu kepala saya dibuat cenut-cenut dengan tulisan itu.

Dalam pidatonya, Obama mengatakan selamat ia tak disalahkan Ortega untuk kejadian saat ia berusia tiga bulan. Mengapa ia menggunakan kata kejadian, bukan kejahatan atau kekeliruan? Bukankah memusuhi adalah perilaku yang jahat? Yang keliru? Dan, itu dilakukan negaranya, meski saat itu ia masih tiga bulan? Bukankah ia warga negara AS? Jadi, apa pun yang dilakukan Amerika, sebagai warga negara ya... ia juga terkena dampaknya. Maka dari itulah ada peribahasa berbunyi: karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Mau masih tiga bulan atau tiga ratus bulan.

Saya jadi berkaca dengan kalimat itu. Sejujurnya saya malu mengaku saya memang yang jahat, yang keliru, yang senangnya memaksa orang harus nurut, yang selalu jadi pencetus kebencian, yang bersembunyi dalam kepiawaian memainkan kata dan kalimat.

Saya bengong saja. Terus ada suara dalam hati, ”Mau seperti Chavez? Enggak usah mikir terlalu dalam. Orang lain mau nipu kek, mau memesona kek, itu urusan mereka. Urusan lo itu cuma menjadi inspirasi orang untuk hidup berdamai. Titik. Lo itu dilahirkan tidak dengan tujuan menciptakan musuh, oke?”

Saya menganggut-anggut karena teman saya baru kena fitnah dari atasannya karena memiliki ide lebih cemerlang. Atasannya ini juga banyak musuhnya. Ia sudah mau dimutasi, tetapi tak ada satu pun departemen di kantor itu mau menerimanya

Tak lama setelah itu, ada suara lagi yang berteriak. ”Jangan lupa pakai kemeja merah, Neng. Mau seperti Chavez, kan? Atau mau pakai rok bawah? Secara lo bisa hidup di dua dunia juga.” Saya jawab suara edan itu. ”Buayaaa… kale.”

Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup

 

***

 

KILAS PARODI

1. Anda jadi presiden sebuah negara yang dibenci dan disebut musuh oleh Amerika Serikat, apakah Anda akan memaafkan AS?

a. Ya, saya akan memaafkan dan melupakan negara AS itu pernah ada.

b. Ya, saya akan memaafkan dan melupakan kalau lagi tidur terlelap saja.

c. Ya, saya akan memaafkan dan melupakan. Itu urusan AS. Saya mah mau dimusuhin hayu, mau dijadikan teman, hayu juga. Take it easy-lah, man!

d. Ya… enggak… ya… enggak… ya…. Tunggu suara tokek dulu, deh!

2. Anda menganggap seorang menjadi musuh, biasanya karena alasana apa?

a. Senang saja cari musuh. Karena kalau enggak gitu, hidup itu enggak seru. Jadi gimana gitu, loh.

b. Iri

c. Sakit hati

d. Ikut-ikutan teman segeng, takut dimusuhi

e. Karena sudah sepatutnya dimusuhi

f. Karena enggak mau nurut seperti maunya saya

3. Sekarang saya menyuruh Anda memaafkan orang yang menyakitkan bertahun lamanya yang menuduh Anda musuh hanya karena Anda tak setuju dengan cara pandangnya. Bersediakah Anda?

a. Eh… gimana ya… eh… eh... (sambil garuk-garuk kepala. Padahal, satu, tidak berketombe; dua, gatal pun tidak)

b. Eee… eap euoihk sna kup ae eee… eee…eeee… eee (ini bukan salah ketik. Bukan bahasa asing juga)

c. Dengan suara lantang, ”Ogah! Kayak orang kurang kerjaan. Pertanyaan macam apa itu. Nyuruh-nyuruh orang seenaknya saja.”

d. Eh… gimana, ya? Bingung, nih. Hare gene pertanyaannya susah banget.

e. Maunya sih, kan, katanya mesti memaafkan, tetapi saya juga cuma manusia biasa. Boleh dong kalau enggak mau? Atau diperpanjang lagi deh waktunya, masih mau nyoba. Tetapi, enggak janji bisa.

4. Ada pertanyaan begini. Mana dari beberapa aktivitas di bawah ini yang paling sulit Anda lakukan? Mengapa? Untuk menjelaskan mengapa, mohon ditulis saja di secarik atau dua carik kertas atau berbicara dengan diri sendiri.

a. Memaafkan kesalahan orang, siapa pun itu

b. Mengaku saya yang salah

c. Mengatakan aku suka kamu kepada pasangan (terserah resmi atau setengah resmi)

d. Merendahkan hati

e. Berdiri di pinggir jalan menunggu taksi atau busway sementara Anda orang kaya dan kondang banget

f. Menjadi diri sendiri

g. Membungkam mulut sendiri supaya jangan menjerit dan memaki orang di depan umum

h. Mengurangi sifat egois

i. Mengontrol emosi

j. Bukan salah satu jawaban di atas. (Samuel Mulia)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau