JAKARTA, KOMPAS.com — Isu neoliberalisme begitu gencar merebak di masyarakat, tetapi ternyata isu ini hanya dimengerti 17,8 persen penduduk Indonesia. Namun, setelah diberi pengertian soal neoliberalisme, masyarakat yang tidak setuju pada paham ini sebanyak 71,0 persen. Demikian hasil survei Institute for National Strategic Interest and Development (INSIDe).
"Para pemilih potensial Megawati-Prabowo, JK-Wiranto, muapun SBY-Boediono menyatakan dengan tegas tidak setuju terhadap pemikiran paham neoliberalisme diterapkan dalam kebijakan para capres," kata Komisaris Utama INSIDe Yudi Latief di Jakarta, Senin (6/7).
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa yang tidak setuju dengan neoliberalisme yang memilih Megawati-Prabowo sebanyak 7,4 persen, SBY-Boediono 6,9 persen, dan JK-Wiranto 9,2 persen. Sedangkan yang setuju neoliberalisme dan memilih Megawati-Prabowo sebanyak 67,4 persen, SBY-Boediono 67,2 persen, dan JK-Wiranto 80,7 persen.
Kemudian untuk mereka yang tidak mengerti soal neoliberalisme, yang memilih Megawati-Prabowo 25,2 persen, SBY-Boediono 26,0 persen, dan JK-Wiranto 10,1 persen. "Jika masing-masing ditotal maka ketemunya 100 persen," ungkap Yudi.
Survei yang dilakukan INSIDe ini dilakukan pada 29 Juni-5 Juli 2009. Pendekatannya menggunakan metode kuantitatif dengan cara pengumpulan data utama menggunakan kuisioner. Sampel dilakukan di 12 provinsi di Indonesia sebanyak 1.200 responden dengan mempertimbangkan proporsi jumlah penduduk. Respondennya 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Margin of error sebesar +/- 3 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang