Jika Masuk Putaran Kedua, JK Tak Sabar Ingin Berdebat soal Mi Instan

Kompas.com - 08/07/2009, 11:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil presiden dan calon presiden Jusuf Kalla optimistis masuk ke putaran kedua Pemilu Presiden 2009. Menurut JK, dirinya optimistis karena suara rakyat sudah lebih baik dan rakyat sudah cukup dijamin haknya untuk memilih.

Optimisme ini juga akan lebih berarti, ungkap JK, jika daftar pemilih tetap (DPT) bersih dari kecurangan, seperti maraknya nama ganda. "Kedua, yang memilih saya lebih banyak," lanjut JK seusai mencontreng di TPS 19 Taman Suropati Menteng Jakarta Pusat, Rabu (8/7).

Jika mampu tembus ke putaran kedua, salah satu ambisi JK adalah berdebat dengan salah satu calon presiden yang juga memiliki dukungan kuat. "Kalau kita debat lagi, saya mau tanya, mi-mi yang satu itu sudah masuk belum?" ujar JK menyindir calon presiden SBY.

Dalam debat capres kedua yang lalu, SBY dan JK "berseteru" soal mi instan. SBY yang memiliki iklan kampanye dengan jingle salah satu merek mi instan "disentil" JK. Menurut JK, makin besar produksi mi instan akan berpotensi menyebabkan inflasi sebab impor gandum meningkat.

SBY menjawab, mi instan yang dikonsumsinya tidak hanya terbuat dari gandum, tetapi juga dari sukun, sagu, dan ketela sebagai upaya penurunan impor gandum.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau