YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Arie Sudjito, bependapat, kemenangan SBY dalam pilpres tak lepas dari faktor cawapres Boediono. Sebab, Boediono diyakini banyak mendulang suara dari masyarakat menengah ke atas dan intelektual.
"Mereka itu dalam pemilu-pemilu sebelumnya bisa jadi bersikap golput," ujar Arie, Kamis (9/7), menanggapi hasil survei sejumlah lembaga yang memenangkan SBY-Boediono.
Boediono yang bukan orang politik, kata Arie, membawa nuansa baru dalam pilpres, walau hanya sebagai cawapres, apalagi masyarakat juga sudah jenuh karena selalu disuguhi calon yang melulu hanya dari partai politik.
"Di tingkat akar rumput, Boediono memang kurang dikenal dan kurang populer. Tapi bagi para pelaku ekonomi, intelektual, perbankan, dan akademisi cukup tahu sepak terjang Boediono. Mereka yang jumlahnya banyak ini mau memberi suara ke Boediono," kata Arie lebih lanjut.
Sisi positif Boediono, menurut dia, adalah sosoknya yang kalem dan tidak problematis, selain kemampuan intelektualitasnya. Gabungan karakter itu dianggap bisa membawa hal baru ketika menjalankan roda pemerintahan bersama SBY lima tahun ke depan.
"Boediono mesti menelurkan banyak gagasan dan pemikiran, dan mengampanyekannya ke masyarakat. Itu nanti yang akan dilihat masyarakat sehingga membuatnya lebih dikenal. Jika itu sudah didapat, barangkali Boediono baru bisa dan berpikiran melangkah ke kursi presiden dalam bursa pilpres mendatang. Itu pun dengan catatan, Boediono masuk ranah politik," kata Arie.
Arie menambahkan, kemenangan SBY bisa jadi lebih ditentukan figur ketimbang dari partai politik pengusungnya. Partai, menurut Arie, sudah berkurang kemampuannya dalam menjaring suara masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang